<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>IZZATUNA DINUL HAQ</title>
	<atom:link href="http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com</link>
	<description>Meraih kemuliaan dengan yaqin, sabar, ikhlas dan mengikuti Rasulullah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Feb 2010 10:35:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='izzatunadinulhaq.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/088db500520c50ac36b9a005eabe86f4?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>IZZATUNA DINUL HAQ</title>
		<link>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/osd.xml" title="IZZATUNA DINUL HAQ" />
	<atom:link rel='hub' href='http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia (5)</title>
		<link>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-5/</link>
		<comments>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 10:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>izzatunadinulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Diambil dari website www.salafy.or.id Penulis: Panitia Daurah Masyayikh 1430 H &#8211; 2009 KETIGA : Beberapa Risalah yang Selesai Dibaca Selama Perjalanan Beserta Faidah-Faidah Ilmiah atau Penambahan Catatan Kaki yang Penting Karena perjalanan antara Jakarta dan Abu Dhabi yang sangat jauh, yaitu membutuh waktu perjalanan selama tujuh jam (pesawat), maka aku menghabiskannya untuk membaca dan menulis. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=30&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Diambil dari website <a title="perjalanan syaikh abdullah 5" href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1480">www.salafy.or.id</a></p>
<div>Penulis: Panitia Daurah Masyayikh 1430 H &#8211; 2009</div>
<div>
<div></div>
</div>
<div></div>
<div>KETIGA :</p>
<p>Beberapa Risalah yang Selesai Dibaca Selama Perjalanan<br />
Beserta Faidah-Faidah Ilmiah<br />
atau Penambahan Catatan Kaki yang Penting</p>
<p>Karena perjalanan antara Jakarta dan Abu Dhabi yang sangat jauh, yaitu membutuh waktu perjalanan selama tujuh jam (pesawat), maka aku menghabiskannya untuk membaca dan menulis. Di antara risalah yang tertuang adalah risalah yang berjudul Al-Maqalat Asy-Syar&#8217;iyyah (Makalah-makalah Ilmiah) karya rekan kami Asy-Syaikh &#8216;Abdullah Al-Bukhari dengan pendahuluan dari dua orang syaikh yang mulia, yaitu Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi rahimahullah dan Asy-Syaikh Zaid bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah.</p>
<p>Risalah tersebut terkumpul dalam tiga jilid, beliau memberikannya kepadaku sebagai hadiah pada daurah kali ini. Beliau menulis dalam risalah tersebut sejumlah pembahasan yang bagus. Asy-Syaikh An-Najmi menyatakan tentang pembahasan tersebut : &#8220;Pembahasan-pembahasan ini dalam pandanganku adalah untaian permata dan cahaya putih. Penulis telah mendapatkan taufik dalam memilih dan dalam menyampaikannya.&#8221; Beliau juga berkata : &#8220;Penulis (Asy-Syaikh &#8216;Abdullah Al-Bukhari) telah mengumpulkan perbahasan-pembahasan yang membangunkan akal-akal yang tidur dan hati-hati yang lalai.&#8221;</p>
<p>Diantara apa yang telah aku baca dari pembahasan dan makalah ini adalah tulisan tentang pembelaan yang benar tentang seorang tokoh pembawa dan pembela bendera as-sunnah, yaitu Asy-Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali. Pada awal pembahasan membicarakan masalah keutamaan para &#8216;ulama dan penjelasan tentang sebagian hak mereka yang harus ditunaikan oleh umat ini terhadap para &#8216;ulama. Kemudian beliau (Asy-Syaikh Al-Bukhari) membahas tentang Asy-Syaikh A-Mujahid Al-&#8217;Allamah Al-Muhaddits Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali dan pembelaannya terhadap as-sunnah, serta pujian-pujian para ulama atasnya. Di antaranya beliau menyebutkan pujian dari dua orang &#8216;ulama besar, yaitu Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-&#8217;Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Asy-Syaikh Al-Faqih Al-Ushuli Al-Mufassir Al-&#8217;Allamah Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin – semoga Allah merahmati keduanya-.</p>
<p>Ketika telah selesai membaca risalah yang indah dan pembahasan yang bagus ini, aku memberikan tambahan terhadap pembahasan tersebut dalam bentuk catatan kaki. Aku katakan padanya :</p>
<p>Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah. Wa ba&#8217;d : Ini adalah makalah yang baik, ditulis oleh saudara kami Asy-Syaikh &#8216;Abdullah Al-Bukhari tentang pembelaan terhadap Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Mujahid Rabi&#8217; Al-Madkhali. Risalah ini mencapai puncak keindahan. Hanya saja penulis tidak menampilkan sikap-sikap syaikh kami (Asy-Syakh Rabi&#8217;) yang bisa dirasakan dalam memberikan nasehat kepada pihak lain dan kesabaran beliau menghadapi mereka, hingga tampak dari mereka sikap rujuk. Apabila ternyata tetap tidak mau rujuk, maka beliau pun membantahnya. Hal ini sebagaimana terjadi terhadap &#8216;Abdurrahman &#8216;Abdul Khaliq, Salman Al-&#8217;Audah, Abul Hasan Al-Ma&#8217;ribi, dan selain mereka.</p>
<p>Demikian pula dengan sikap beliau terhadap para salafiyyin di seluruh tempat. Musyawarah-musyawarah dan nasehat yang beliau berikan. Berapa banyak didapatkan dari musyawarah, nasehat, dan arahan penghancuran kebatilan dan bid&#8217;ah-bid&#8217;ah, tampaknya As-Sunnah dan orang-orang yang berpegang dengannya, serta kemenangan kaum muslimin dalam menghadapi orang-orang kafir.</p>
<p>Sebagaimana terjadi pada kaum muslimin di salah satu kepulauan Indonesia, ketika kaum Nashrani dengan tiba-tiba menyerang kaum muslimin di kepulauan tersebut, yaitu pada hari raya &#8216;Idul fitri. Kaum nashrani menyerang kaum muslimin dengan serentak. Mereka berhasil membunuh sejumlah besar kaum muslimin. Sehingga tidak ada yang bisa dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia kecuali berkumpul dan bersepakat untuk memerangi mereka. Mereka menyeberangi lautan dengan kapal untuk menuju kepulauan tersebut dengan jumlah mencapai 5000 orang. Mayoritas mereka adalah salafiyyin. Kemudian mereka menyerang kaum nashara dan berhasil membunuh dari mereka sejumlah ribuan orang di medan tempur yang berlangsung selama berbulan-bulan. Hasil dari upaya ini (jihad melawan orang-orang nashara-pen) memberikan hasil berupa pelajaran bagi kalangan nashrani, yang dengannya mulialah kaum muslimin dan menjadi hinalah orang-orang kafir. Semua usaha ini (melawan kaum nashara-pen) mayoritasnya adalah karena mengikuti dan arahan dari Asy-Syaikh Al-Mujahid Rabi&#8217; Al-Madkhali dan Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muqbil Al-Wadi&#8217;i, ketika pemerintah dalam keadaan tidak merespon untuk melakukan perbaikan keadaan.</p>
<p>Yang seperti ini, demi Allah, adalah jihad yang hakiki, yaitu untuk menegakkan kalimat Allah dan membela kaum muslimin. Adapun perang yang dilakukan oleh ahlul bid&#8217;ah dan kalangan takfiri, Al-Qaeda (Usamah) bin Laden dan (Aiman) Azh-Zhawahiri, yang mereka menamakannya sebagau jihad, pada hakekatnya adalah kejahatan terhadap Islam dan kaum muslimin serta memberikan peluang kepada kaum kafir untuk mencekik leher kaum muslimin dan merampas wilayah mereka. Mayoritas perang mereka – yaitu kalangan takfiri dan Al-Qaeda – semenjak awalnya dan masih terus berlanjut, adalah untuk menyerang kaum muslimin, sebagaimana telah terjadi di Afghanistan, penyerangan mereka terhadap Ahlus Sunnah dan pembunuhan yang mereka lancarkan terhadap Asy-Syaikh Jamilurrahman As-Salafi –rahimahullah-.</p>
<p>Sebagaimana pula yang terjadi di Aljazair. Mereka membunuhi kaum muslimin, mengeluarkannya dari masyarakat muslimin, dan mengkafirkannya. Itu semua dengan arahan dari orang-orang yang disebutkan sebagai dai-dai kebangkitan.</p>
<p>Sebagaimana pula terjadi di Iraq, mereka menumpahkan darah, berbuat lancang terhadap orang-orang yang tidak berdosa, masuk ke dalam masjid-masjid dan membunuh orang-orang yang shalat. Itu semua mereka lakukan atas nama jihad!! Inilah klaim mereka!!</p>
<p>Bahkan sebagaimana terjadi pada negeri kami, yaitu Kerajaan Saudi Arabia, negeri tahuid dan sunnah. Terjadi berbagai pengeboman dan pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah, dilakukan oleh Al-Qaeda dan para pengekornya dari kalangan takfiri dan Quthbiyyin, atau dari kalangan orang-orang yang mendapatkan tarbiyah dari pendidikan Jama&#8217;ah Tabligh.</p>
<p>Aku katakan : betapa banyak Allah telah menghancurkan melalui beliau – yaitu Asy-Syaikh Rabi&#8217; – upaya pembunuhan terhadap kaum muslimin dan orang-orang yang mendapatkan jaminan keamanan. Juga tindakan menumpahkan darah. Sebagaimana terjadi di Aljazair, ketika pembunuhan telah merajalela di antara mereka. Asy-Syaikh Rabi&#8217; hafizahullah dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin rahimahullah memberikan nasehat kepada mereka.</p>
<p>Demikian pula dengan sikap beliau terhadap penduduk Iraq, serta arahan yang beliau sampaikan, yang kemudian berhasil menjaga dakwah dan keamanan mereka, serta kehormatan dan agamanya. Beliau juga memberikan dorongan untuk mencari ilmu, penuh hikmah, dan kesabaran. Serta sikap/peran beliau yang lain.&#8221;</p>
<p>Catatan kaki ini aku tulis sebagai tambahan untuk apa yang telah ditulis oleh saudara kami Asy-Syaikh &#8216;Abdullah Al-Bukhari, semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadanya. Tidak diragukan lagi bahwa Syaikhuna (Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali) memiliki sejumlah sikap/peran besar yang seharusnya untuk kita menampilkannya, agar umat mengetahui siapa sebenarnya &#8216;ulama kita. Betapa banyak melalui mereka Allah menjaga agama dan as-sunnah. Betapa banyak fitnah dan kejelekan yang Allah padamkan melalui mereka. Betapa banyak musibah dan bencana yang menimpa kaum muslimin Allah redakan melalui mereka. Yang demikian karena mereka bertolak dari ilmu, hikmah, dan nasehat yang jujur bagi kaum muslimin.</p>
<p>Peristiwa Perang Teluk pertama belumlah jauh dari kita. Para &#8216;ulama –di bawah pimpinan Al-Imam Al-&#8217;Alim Al-&#8217;Allamah A-Muhaddits Al-Mujahid &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdullah bin Baz- memberikan fatwa bolehnya meminta bantuan kepada kekuatan asing dalam melawan pasukan komunis (pasukan Iraq, di bawah pimpinan Shaddam Husain-pen).</p>
<p>Fatwa agung itu telah menjaga pertahanan Islam dan pemeluknya di saat para da&#8217;i-da&#8217;i &#8216;pencerahan&#8217; dan &#8216;penyemangat&#8217;, seperti Salman Al-&#8217;Audah dan Safar Al-Hawali, berfatwa dengan penolakan fatwa para &#8216;ulama tersebut dan berlepas diri darinya – demikian yang mereka yakini!!</p>
<p>Aku katakan : Inilah Al-Mujahid Al-&#8217;Alim As-Salafi yang sangat cemburu terhadap Islam, As-Sunnah dan Manhaj As-Salafi, yaitu Asy-Syaikh Rabi&#8217; Al-Madkhali. Sangat disayangkan ada di sana di antara anak-anak dari keturunan kita dan orang-orang yang tumbuh di negeri tauhid dan sunnah, dan terkadang dari kalangan yang dianggap berilmu dan da&#8217;i, yang umat diuji dengan keberadannya. Barangsiapa yang mengenali keutamaan beliau (Asy-Syaikh Rabi&#8217;), membaca karya-karyanya, serta mengambil nasehat dan arahan-arahannya, maka dia akan menolak dan waspada dari orang-orang semacam itu.</p>
<p>Demikianlah keadaannya. Hal ini telah terjadi dan aku saksikan sendiri di negeri Indonesia. Salah satu pelajar Indonesia yang hadir di daurah mengabarkan kepadaku bahwasanya pada beberapa hari sebelumnya ia ditemui oleh salah satu wakil Universitas Islam (Madinah) untuk menguji para pelajar yang ingin mendaftar di universitas tersebut. &#8220;Penguji tersebut menanyaiku tentang Asy-Syaikh Rabi&#8217; Al-Madkhali, maka aku jawab sesuai dengan pengetahuanku tentang beliau.&#8221;, kata pelajar tersebut. Kemudian ia melanjutkan, &#8220;Ternyata hasil dari wawancara ini adalah namaku tidak masuk dalam daftar orang-orang yang diterima di unversitas Islam Madinah.&#8221;</p>
<p>Kami, demi Allah, sangat menyayangkan munculnya orang-orang seperti ini dari pihak Universitas Islam. Padahal dengannya Allah telah memberikan manfaat kepada Islam dan kaum muslimin. Jika Allah berkehendak, maka universitas tersebut akan senantiasa menjadi sebagai menara tauhid dan sunnah. Bagaimana tidak, sebenarnya universitas ini berdiri di atas ilmu yang benar bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah, serta aqidah As-Salaf ash-Shalih. Berdiri di tangan para ulama rabbani dan kawakan, baik dalam urusan pengaturan maupun pengajaran, seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy-Syaikh, Asy-Syaikh &#8216;Abdul &#8216;Aziz bin &#8216;Abdullah bin Baaz, Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Al-Jinki Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dan selain mereka.</p>
<p>Aku memohon kepada Allah agar menetapkan universitas Islam Madinah tersebut dalam kondisi mulia untuk Islam dan kaum muslimin, Sunnah dan tauhid, serta menjauhkannya dari tangan-tangan ahlul ahwa dan hizbiyyin.</p>
<p>(bersambung, insya Allah)</p>
<p>(Sumber : <a href="http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996" target="_blank">http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996</a> &amp; diarsipkan di <a href="http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip." target="_blank">http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip.</a> Dikirimkan oleh al akh Abu Amr melalui email)</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=30&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e44008b7c017d66659a7faf709085341?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">izzatunadinulhaq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia (4)</title>
		<link>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-4/</link>
		<comments>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 10:11:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>izzatunadinulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Diambil dari Website www.salafy.or.id Penulis: Panitia Daurah Masyayikh 1430 H &#8211; 2009 KEDUA : Daurah Ilmiah Asatidzah Di Yogyakarta (Jogja) Daurah Ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh ikhwah salafiyyin di Indonesia, tepatnya di kota Yogyakarta (Jogja), termasuk daurah-daurah yang dengannya Allah memberikan manfaat kepada kaum. Daurah tersebut berhasil menghidupkan kembali di tengah-tengah para thullabul &#8216;ilmi (penuntut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=27&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Diambil dari Website <a title="perjalanan syaikh abdullah 4" href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;id_artikel=1472">www.salafy.or.id</a></p>
<div></div>
<div>Penulis: Panitia Daurah Masyayikh 1430 H &#8211; 2009</div>
</div>
<div></div>
<div></div>
<div>KEDUA :<br />
Daurah Ilmiah Asatidzah Di Yogyakarta (Jogja)</p>
<p>Daurah Ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh ikhwah salafiyyin di Indonesia, tepatnya di kota Yogyakarta (Jogja), termasuk daurah-daurah yang dengannya Allah memberikan manfaat kepada kaum. Daurah tersebut berhasil menghidupkan kembali di tengah-tengah para thullabul &#8216;ilmi (penuntut ilmu) kebiasaan para as-salafush shalih melakukan rihlah (perjalanan) untuk menuntut ilmu, semangat mempelajari ilmu, dan berakhlak dengan akhlak para ahli ilmu.</p>
<p>Daurah ini dihadiri oleh para thullabul &#8216;ilmi (penuntut ilmu) dari seluruh penjuru Indonesia dan kepulauan-kepulauannya yang banyak. Sebagian mereka datang dengan naik kapal melewati lautan dan pulau-pulau. Sebagian yang lain dengan mengendarai pesawat terbang. Sebagian yang lain dengan mobil-mobil dan kereta api. Mereka menempuh jarak yang mencapai ribuan kilo meter. Mereka harus melewati gunung-gunung, lembah, dan sungai-sungai.</p>
<p>Yang aku saksikan pada mereka perilaku yang baik, semangat untuk menerapkan sunnah pada penampilan mereka dan shalat mereka, serta semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu.</p>
<p>Aku melihat mereka dalam keadaan masjid sudah penuh sesak oleh mereka. Mereka berkumpul di sekitar meja pengajar. Hampir-hampir tidak ada tempat kosong di antara mereka. Jumlah mereka mencapai 500 orang!!</p>
<p>Pemandangan yang seperti ini akan membuat pandangan mata menjadi sejuk, jiwa menjadi bahagia, harapan kepada Allah semakin kuat, dan harapan mendapakan pertolongan dari-Nya bagi para muwahhidin. Allah pasti akan memenangkan agama-Nya walaupun orang-orang musyrik, kafir, dan munafik membencinya, dan meskipun mereka mengupayakan berbagai makar untuk menyerang Islam dan para pemeluknya, berusaha sungguh-sungguh untuk menyesatkan dan menghalangi mereka dari agama mereka yang benar dengan berbagai macam makar dan tipu daya, maka sesungguhnya Allah akan menggagalkan tipu daya dan makar mereka.</p>
<p>وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ، وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (30) [الأنفال/30 ]</p>
<p>Mereka melakukan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. [Al-Anfal : 30]</p>
<p>Meskipun mereka berusaha dengan keras untuk merubah fitrah kaum muslimin, menanamkan fitnah sesama mereka, dan memasukkan bid&#8217;ah dan khurafat kepada mereka, serta menenggelamkan mereka dengan berbagai bentuk syahwat, maka sesungguhnya Allah Yang akan memadamkan itu semua. Dia yang akan menjadikan tipu daya mereka kembali kepada leher-leher mereka. Dia akan mengeluarkan dari keturunan kaum muslimin orang yang mengibarkan bendera as-sunnah, mendakwahkan Islam yang benar dan bersih dari kotoran syirik dan bid&#8217;ah, berakhlak dengan Islam dan pondasi-pondasinya yang agung. Maha Benar Allah, Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Hikmah ketika Ia berfirman:</p>
<p>يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (8) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (9) [الصف/8، 9]</p>
<p>&#8220;Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya&#8221;. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa hidayah (ilmu yang bermanfaat) dan agama yang benar (amal shalih) agar Dia memenangkannya (agama tersebut) di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. [Ash-Shaf : 8-9]</p>
<p>Allah &#8216;Azza wa Jalla telah memberikan anugerah (barakah) dalam keikutsertaan kami dalam daurah ini, yaitu dengan menjelaskan Kitabul &#8216;Ilmi dari kitab Shahih Al-Bukhari secara lengkap, demikian pula dengan menjelaskan awal Kitabus-Sunnah dari kitab Sunan Abi Daud. Kedua kitab ini di antara kitab pegangan yang diajarkan dalam Daurah Ilmiyyah pertama di Masjid Jami&#8217; Mu&#8217;awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallah &#8216;anhuma, Hafrul Bathin, sebagaimana telah lalu.</p>
<p>Sedangkan saudaraku, Asy-Syaikh DR &#8216;Abdullah bin &#8216;Abdurrahim Al-Bukhari ikut andil dengan mengajarkan manzhumah Al-Baiquniyyah dan Kitabun-Nikah dari kitab Manhajus Salikin karya Al-&#8217;Allamah As-Sa&#8217;di. Sebagaimana pula saudaraku Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri mengajarkan Kitab Fafhul Rabbil Bariyyah bi Talkhis Al-Hamawiyyah.</p>
<p>Ditambah lagi dengan penyampaian pelajaran yang sukses, disampaikan di sejumlah muhadharah yang dilaksanakan di Masjid Jami&#8217; lain di wilayah yang sama (yang beliau maksud adalah Daurah Umum di Masjid Agung Bantul – Yogyakarta) yang jarak tempuhnya dari pusat pengadaan Daurah Ilmiah Asatidzah adalah sekitar 45 menit.</p>
<p>Penyampaian muhadharah tersebut (Daurah Umum) dilakukan secara bergantian antara kami bertiga. Sebagaimana pula aku dan Asy-Syaikh Khalid menyampaikan dua kali muhadharah ketika kami kembali ke Jakarta. Tema muhadharah yang aku sampaikan adalah berkaitan dengan hak Allah atas para hamba, yaitu tauhid, serta penjelasan buahnya ketika di dunia dan di akhirat dan penjelasan bahwasanya buah tersebut hanya akan terwujud bagi merkea yang mengikuti petunjuk Nabi dan menerapkan sunnah beliau, baik dalam ibadah maupun dalam aqidah. Sebagaimana pula Allah telah memberikan taufik dengan aku bisa menyampaikan khutbah Jum&#8217;at dengan tema ini pula. Teriring do&#8217;a memohon kepada Allah untuk seluruh kalangan agar diberi keikhlasan dan diterima amalannya.</p>
<p>Daurah Ilmiah terlaksana selama satu pekan. Masa-masa daurah tersebut menjadi waktu yang paling indah, karena kami menghabiskannya dalam suasana keilmuan bersama para ikhwah yang memiliki semangat tinggi. Semangatmu menjadi pendorong untuk menyampaikan, membahas, serta mendiskusikan berbagai masalah ilmiyyah.</p>
<p>Waktu-waktu pelajaran mayoritasnya pada siang hari dan seusai shalat berjama&#8217;ah :</p>
<p>- setelah shalat Shubuh selama dua jam,</p>
<p>- jam 09.30 pagi hingga menjelang Zhuhur,</p>
<p>- setelah shalat Zhuhur,</p>
<p>- setelah shalat &#8216;Ashar,</p>
<p>- setelah shalat &#8216;Isya&#8217; dua jam.</p>
<p>Adapun waktu setelah Maghrib adalah waktu istirahat untuk para pelajar dan menyantap makan malam.</p>
<p>Pada kesempatan ini, aku ingin memberikan dorongan kepada para masyayikh dan para thullabul &#8216;ilmi (penuntut ilmu) untuk berta&#8217;awun bersama para ikhwah tersebut yang telah membukakan bagi kita pintu yang lebar untuk mengajar dan menyebarkan ilmu, sunnah, tauhid, dan berbagai muhadharah di hadapan jumlah hadirin yang begitu besar. Allah Yang memberikan taufik dan petunjuk kepada jalan yang lurus.</p>
<p>Transkrip Arab :<br />
ثانيًا: الحديث عن الدورة العلمية<br />
في جكجكرتا (ججا)<br />
هذه الدورة العلمية السنوية التي يقيمها إخواننا السلفيون في أندونيسيا في بلدة جكجكرتا (ججا) من الدورات الناجحة التي نفع الله بها المسلمين، وأحيت عند الطلاب ما دأب عليه سلفنا الصالح في الرحلة في طلب العلم، والحرص على مدارسة العلم، والتحلق حول أهله.<br />
وهي دورة يرحل لها الطلاب من جميع أنحاء أندونيسيا وجزرها الكثيرة، فالبعض يأتيها بالسفن عبر البحار والجزر، والبعض بالطائرات، وآخرون بالسيارات والقطارات قد قطعوا الآلاف من الكيلو مترات، ما بين الجبال والوديان والأنهار. والذين رأيت فيهم السمت الحسن، والحرص على تطبيق السنة في مظهرهم، وفي صلاتهم، والهمة العالية في الطلب.<br />
رأيتهم، وقد اكتظ المسجد بهم، وهم متحلقون حول طاولة الدرس، لا تكاد تجد خللاًً بينهم، وقد شارفت أعدادهم الخمسمائة طالبًا.<br />
وإن مثل هذه المشاهد لتسر الناظر، وتبهج النفس، وتزيد الأمل بالله تعالى، وبنصره لعباده الموحدين، وأنه تعالى مظهر دينه ولو كره المشركون والكافرون والمنافقون. وأنهم مهما كادوا للإسلام ومكروا بأهله، وحرصوا على إضلالهم وصدهم عن دينهم الحق بأنواع المكر والكيد فإن الله تعالى راد كيدهم ومكرهم، ﭽﮛ ﮜ ﮝﮞ ﮟ ﮠ ﮡﭼ(1). فمهما حاولوا تغيير فطرة المسلمين، وزرع الفتن بينهم، وإدخال البدع والخرافات بينهم، وإغراقهم بأنواع الشهوات، فإن الله تعالى مطفئ ذلك كله، وجاعل كيدهم في نحورهم، ومخرج من أصلاب المسلمين من يرفع السنة، ويدعو للإسلام الصحيح الخالي من شوائب الشرك والبدع، والتخلق بأخلاق الإسلام، ومبانيه العظام. وصدق الله العزيز الحكيم إذ يقول ﭽﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝﭼ(1).<br />
ولقد مَنَّ الله تعالى في مشاركتنا في هذه الدورة بشرح كتاب العلم من صحيح البخاري كاملاً، وكذلك أوائل كتاب السنة من سنن أبي داود. وهذان الكتابان كانا من مقررات الدورة العلمية الأولـى بجـامـع مـعـاويـة بـن أبـي سفـيـان  بحفر الباطن كما أسلفت. وشارك أخي الشيخ الدكتور عبدالله بن عبدالرحيم البخاري بتدريس البيقونية وكتاب النكاح من منهج السالكين للعلامة السعدي. كما شارك أخي الشيخ خالد بن ضحوي الظفيري بتدريس كتاب فتح رب البرية بتلخيص الحموية. وبالإضافة للتدريس فقد تم إلقاء عدة محاضرات في جامع آخر كبير في نفس البلدة يبعد عن مقر الدورة مسافة ساعة إلا ربعًا. وهذه المحاضرات مقسمة بيننا نحن الثلاثة، كما ألقينا أنا والشيخ خالد محاضرتين في عودتنا إلى جاكرتا؛ كان موضوع محاضرتي يتناول حق الله على العبيد؛ وهو التوحيد، وبيان ثماره في الدنيا والآخرة، وبيان أن هذه الثمار إنما تتحقق فيمن اتبع هدي النبي  وحَكـَّم سنته في عبادته وعقيدته. كما وفق الله بإلقاء خطبة الجمعة وكانت حول هذا الموضوع أيضًا. سائلين الله عزوجل للجميع الإخلاص والقبول. وكانت مدة الدورة الفعلية للتدريس أسبوعًا. كانت من أمتع الساعات، حيث قضيناها في جو ٍ علمي ٍ، مع إخوةٍ ذوي همم ٍ عاليةٍ، تشحذ همتك للعطاء والبحث ونقاش المسائل العلمية.<br />
وقد قسمت ساعات التدريس على أغلب أوقات النهار وبعد الصلوات. فبعد الفجر ساعتان، ومن التاسعة والنصف ضحى إلى قبيل الظهر، وبعد الظهر، وبعد العصر، وبعد العشاء ساعتان. وكانت فترة المغرب راحة للطلاب وتناول وجبة العشاء.<br />
وإنني في هذا المقام لأحث إخواني من المشايخ وطلبة العلم للتعاون مع هؤلاء الإخوة والذي فتحوا لنا بابًا عظيمًا في التدريس ونشر العلم والسنة والتوحيد وإلقاء المحاضرات لتلك الأعداد الغفيرة. والله الموفق والهادي إلى سبيل الرشاد.</p>
<p>(bersambung, insya Allah)</p>
<p>(Sumber : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996 &amp; diarsipkan di http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip. Dikirimkan oleh al akh Abu Amr melalui email)</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=27&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e44008b7c017d66659a7faf709085341?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">izzatunadinulhaq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia (3)</title>
		<link>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-3/</link>
		<comments>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 10:04:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>izzatunadinulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Diambil dari website www.salafy.or.id Penulis: Panitia Daurah Masyayikh 1430 H &#8211; 2009 PERTAMA : Para Ikhwah (Asatidzah) Ahlus Sunnah As-Salafiyyin Panitia Daurah Ilmiah dan Pengampu Dakwah Salafiyyah di Negeri Indonesia Sungguh kami telah berjumpa – sesampainya kami di negeri Islam ini (negeri Indonesia)- dengan saudara-saudara kami, Ahlus Sunnah As-Salafiyyin. Kami saksikan kebenaran dalam berpegang kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=24&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Diambil dari website <a title="perjalanan syaikh abdullah 3" href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1471">www.salafy.or.id </a></div>
<div></div>
<div>
<div>Penulis: Panitia Daurah Masyayikh 1430 H &#8211; 2009</div>
<div>
<div></div>
</div>
<div></div>
<div>PERTAMA :</p>
<p>Para Ikhwah (Asatidzah) Ahlus Sunnah As-Salafiyyin<br />
Panitia Daurah Ilmiah dan Pengampu Dakwah Salafiyyah<br />
di Negeri Indonesia</p>
<p>Sungguh kami telah berjumpa – sesampainya kami di negeri Islam ini (negeri Indonesia)- dengan saudara-saudara kami, Ahlus Sunnah As-Salafiyyin. Kami saksikan kebenaran dalam berpegang kepada As-Sunnah kejujuran dalam beragama, istiqamah di atas manhaj salafi, serta semangat dalam thalabul ilmi dan berdakwah di jalan Allah, kami menilainya demikian – dan kami tidak bermaksud memberikan tazkiyyah di hadapan Allah untuk seorang pun &#8211; .</p>
<p>Sebagian di antara mereka ada yang pernah belajar di hadapan para masyaikh dan para &#8216;ulama kita, seperti Asy-Syakh Muqbil bin Hadi Al-Wadi&#8217;i, Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahumallah, atau seperti Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali hafizhahumallah. Sebagian yang lain adalah para alumnus Al-Jami&#8217;ah Al-Islamiyyah (Universitas Islam) Madinah, dan sebagian yang lain, yang masih belum mendapat kesempatan seperti ini, tetap bersemangat untuk menseriusi kitab-kitab dan kaset-kaset para masyaikh tersebut, baik para &#8216;ulama maupun para penuntut ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah.</p>
<p>Lebih dari sekadar berguru, aku telah mengetahui pada mereka seringnya mereka berziarah dan bermusyawarah dengan para &#8216;ulama. Paling seringnya adalah bermusyawarah dengan Asy-Syaikh Rabi&#8217; Al-Madkhali – hafizhahullah – yang beliau ini memiliki peran besar dalam menyatukan kalimat dan barisan mereka.</p>
<p>Sungguh itu merupakan di antara bukti-bukti dalam mengetahui jalan beragama seseorang, apakah dia berjalan di atas sunnah atau di atas sesuatu yang menyelisihinya. Ruh-ruh itu adalah tentara yang berbaris, ruh-ruh yang saling cocok akan bisa bersatu, dan ruh-ruh yang saling bertentangan akan berselisih. Para &#8216;ulama salaf dahulu memandang bahwa bergaulnya seseorang dengan ahlus sunnah, mencintainya, dan bersemangat dalam mengambil ilmu darinya serta bermusyawarah dengannya sebagai tanda bagi manhaj seseorang.</p>
<p>Lebih dari itu, mereka (para &#8216;ulama salaf) memiliki pengetahuan tentang manhaj-manhaj baru, kelompok-kelompok hizbiyyah, waspada darinya, dan mentahdzirnya.</p>
<p>Ini merupakan prinsip yang sangat penting bagi seorang muslim, terutama bagi kalangan penuntut ilmu atau para da&#8217;i di jalan Allah, yaitu hendaknya ia mengetahui kejelekan dan para pengusungnya agar ia waspada darinya. Sungguh Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallah &#8216;anhuma berkata:</p>
<p>كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي</p>
<p>&#8220;Dahulu orang-orang bertanya tentang kebaikan, namun aku bertanya tentang kejelekan karena khawatir (kejelekan tersebut) akan menimpaku.&#8221;</p>
<p>Sungguh benar ucapan sang penyair:</p>
<p>عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لّكِـْن لِتَوَقِّــّّيهِ</p>
<p>وَمَنْ لاَ يَعْرِفِ الشَّرَّ مِنَ الْخَيْرِ يَقَعْ فِيهِ</p>
<p>Aku mempelajari kejelekan bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk aku menghindarinya</p>
<p>Barangsiapa yang tidak bisa membedakan kejelekan dari kebaikan maka ia akan terjatuh ke dalamnya</p>
<p>Demikianlah yang aku saksikan pada diri mereka. Itu merupakan di antara hasil tarbiyah para &#8216;ulama rabbani. Sesungguhnya &#8216;ulama rabbani adalah &#8216;ulama yang mentarbiyah murid-muridnya dengan tarbiyah salafiyyah, yang dengannya terbedakan dengan seluruh manusia. Maka &#8216;ulama rabbani tersebut mengumpulkan antara penanaman prinsip syari&#8217;at dan aqidah, dengan peringatan terhadap kejelekan dan bid&#8217;ah serta para pelakunya.</p>
<p>Inilah keistimewaan para &#8216;ulama yang telah disebutkan di atas. Dan hal ini demi Allah merupakan bentuk nasehat bagi seluruh kaum muslimin dan para penuntut ilmu. Adapun sikap mengambil satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya, maka cara yang demikian ini yang akan membuat si murid berbuat yang berlebihan pada satu kesempatan, atau berbuat menyepelekan pada kesempatan yang lain, dan akan menjadikannya tidak berjalan dia pondasi ilmiah manhajiyyah. Cara demikian membuat banyak kalangan muda berada dalam alam pikiran yang kacau. Tidak mampu membedakan mana yang Ahlus Sunnah dan mana yang Ahlul Bid&#8217;ah, di samping berada dalam aqidah yang lemah. Ia bingung dalam memberikan loyalitasnya, sehingga tidak mengetahui siapa yang layak diberi loyalitas dan siapa yang harus dimusuhi. Tidak mengetahui siapa yang harus ia cintai dan siapa yang harus ia benci. Bahkan ada di antara mereka yang menjadi berseberangan dengan kewajiban-kewajiban imaniyyah, yaitu mencintai ahlus sunnah dan membenci ahlul bid&#8217;ah. Yang demikian kami saksikan pada sebagian murid-murid para masyaikh yang tidak mau memperhatikan sikap waspada terhadap kebid&#8217;ahan dan para pengusungnya, hizbiyyah dan berbagai simbolnya. Mereka tidak memberikan perhatian sama sekali, yang menyebabkan timbulnya di tengah-tengah mereka orang-orang yang seperti itu. Bahkan durhaka dan meninggalkan jalan para masyaikh (guru) mereka.</p>
<p>Aku katakan :<br />
Sungguh aku telah menyaksikan pada para ikhwah tersebut (yakni para asatidzah penyelenggara/panitia Daurah Ilmiyyah Nasional) adanya adab-adab yang tinggi, akhlak-akhlak yang mulia, jiwa-jiwa yang baik, kepeduliaan yang tinggi, ta&#8217;awun yang kuat sesama mereka dalam rangka menyebarkan sunnah dan tauhid, serta manhaj salafi di tengah-tengah negeri tersebut yang telah banyak didominasi oleh kalangan Asy&#8217;ariyyah dan Shufiyyah, bahkan kelompok-kelompok hizbiyyah.</p>
<p>Sungguh tidak berlebihan bila aku katakan, bahwa apa yang aku saksikan adalah sesuatu yang tidak ada bandingannya. Aku belum pernah melihat yang seperti itu. Belum pernah aku menyaksikan jumlah yang begitu besar, mendatangi Daurah Umum yang diterjemahkan, jumlah mereka lebih dari 10.000 orang. Atau jumlah besar mereka yang hadir pada pelajaran Daurah Khusus (khusus untuk para asatidzah dan para duat) yang mendekati 500 orang. Mereka datang dari berbagai penjuru dan kepulauan negeri Indonesia dengan membawa semangat untuk menyebarkan sunnah dan mencari ilmu. Bahkan aku diberi tahu bahwa di sana masih ada lagi sejumlah para penuntut ilmu yang juga berkeinginan menghadiri Daurah Khusus, namun karena tempat yang tidak mencukupi untuk menampung jumlah mereka yang besar, maka panitia membatasi dengan sebagiannya saja.</p>
<p>Mereka (para asatidzah penyelenggara/panitia) telah mengadakan daurah-daurah tersebut dengan swadaya mereka sendiri, di tengah-tengah segala kekurangan. Namun mereka tidak mau menerima sumbangan dana bersyarat dari sebagian organisasi/yayasan yang memiliki tujuan yang samar dan tanzhim hizbi, yang tidaklah tanzhim tersebut hadir pada suatu negeri atau suatu dakwah kecuali pasti akan memecah belah dakwah tersebut dan menimbulkan permusuhan dan saling benci sesama pelaku dakwah. Walahaula wala Quwwata illa billah.</p>
<p>Upaya saling bekerjasama dan bantu membantu yang membuahkan hasil ini, dan cara yang sukses ini, tidak lain merupakan buah dari tarbiyah para ulama dan senantiasa berhubungan dengan mereka. Hal itu membuahkan dalam diri mereka kesinambungan dalam berusaha di atas sikap pertengahan dan lapang, serta hanifiyyah (kelurusan) yang jelas.</p>
<p>Sungguh orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan bantuan, pertolongan, dan kerjasama dalam menjalankan dakwah mereka untuk menyebarkan tauhid dan Sunnah serta manhaj salafi di tengah-tengah negeri yang penduduknya telah didominasi oleh aqidah Asy&#8217;ariyyah dan tarekat Shufiyyah, bahkan kelompok-kelompok hizbiyyah dan takfiry, serta aliran-aliran dan agama-agama yang bermacam-macam.</p>
<p>Semoga Allah memberikan sebaik-baik balasan kepada para ikhwah pengampu dakwah dan Daurah Ilmiah ini. Dan semoga Allah memperbesar pahala atas perkara yang mereka jalankan, berupa pelaksanaan amanat ini dan menyebarkan risalah ini.</p>
<p>Di antara para ikhwah (asatidzah) tersebut yang aku jumpai adalah Al-Ustadz Luqman Ba&#8217;abduh, Al-Ustadz Abal Mundzir, Al-Ustadz &#8216;Askari, Al-Ustadz Hannan Bahannan, Al-Ustadz Qamar Su&#8217;aidi, Al-Ustadz Usamah Faishal Mahri, Al-Ustadz &#8216;Abdush Shamad Bawazir, Al-Ustadz Ahmad Khadim, Al-Ustadz Ruwaifi&#8217;, Al-Ustadz &#8216;Abdul Mu&#8217;thi, Al-Ustadz &#8216;Abdul Bar, Al-Ustadz Ja&#8217;far Shalih, dan selain mereka yang tidak aku ingat nama-namanya. Sebagaiman pula aku tidak lupa dengan salah seorang pemuda bernama Muhammad Fuad yang telah melakukan penerjemahan banyak kitab-kitab salafiyyah dari bahasa &#8216;Arab ke dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Sebagai tambahan keterangan, bahwasanya ia (Muhammad Fuad) dulunya adalah Cina kafir, kemudian masuk Islam dan benarlah Islamnya. Kemudian Allah memberikan karunia kepadanya berupa mengenal manhaj salafi dan aqidah sunni. Allah memberikan manfaat melalui dirinya kepada Islam dan kaum muslimin. Maha Suci Allah yang telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati. Mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya. Ia memberikan hidayah ke ash-shirath al-mustaqim bagi siapa yang ia kehendaki. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.</p>
<p>Di antara perkara yang membuatku terkejut adalah ketika aku melihatnya sebagai penerjemah – dan aku bersyukur kepada Allah atas hal ini- kitabku Sallu As-Suyuf wa Al-Asinnah &#8216;ala Ahli Al-Ahwa&#8217; wa Ad&#8217;iyyah As-Sunnah yang mendapatkan pendahuluan dari Syaikh kami, Doktor Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali, seorang &#8216;ulama yang memiliki perjuangan yang penuh berkah dalam membela rekan-rekan dan murid-muridnya, serta anak-anak didiknya dari kalangan Ahlus Sunnah di setiap tempat. Segala puji bagi Allah yang dengan-Nya sempurnalah setiap amal shalih. Dan aku memohon kepada-Nya agar memberikan rizqi kepada kita berupa keikhlasan dalam berucap dan beramal, menjadikan kita beramal dalam ketaatan-Nya dan membela agama dan sunnah Nabi-Nya, dan agar Dia menjadikan hal ini semua termasuk dalam timbangan amal-amal kebaikan, baik yang berupa kitab-kitab, pengantar, penerjemahan, maupun penerbitan, pada hari yang sudah tidak lagi bermanfaat lagi harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.</p>
<p>Transkrip Arab :<br />
أولا ً: الحديث عن إخواننا أهل السنة السلفيين القائمين على الدورة العلمية والدعوة السلفية     في بلاد أندونيسيا</p>
<p>لقد التقينا بعد وصولنا إلى هذه البلاد الإسلامية بإخواننا أهل السنة السلفيين، والذين رأينا فيهم صحة الالتزام بالسنة، وصدق التدين، والاستقامة على المنهج السلفي، والحرص على العلم والـدعـوة إلى الله عزوجل. نحسبهم كـذلك &#8211; ولا نزكي على الله أحدًا &#8211; .<br />
والبعض منهم ممن درس على يد مشايخنا وعلمائنا، أمثال الشيخ مقبل بن هادي الوادعي، والشيخ أحمد بن يحيى النجمي، رحمهما الله تعالى، أو أمثال الشيخ صالح بن فوزان الفوزان والشيخ ربيع بن هادي المدخلي حفظهما الله تعالى، والبعض من خريجي الجامعة الإسلامية، والبعض ممن فاته ذلك حريص على اقتناء كتب وأشرطة هؤلاء المشايخ وأمثالهم من العلماء وطلبة العلم أهل السنة.<br />
وفضلاً عن التلمذة، فلقد علمت فيهم كثرةً في زيارة العلماء وأخذ المشورة منهم، وكان أكثره للشيخ ربيع المدخلي حفظه الله تعالى، والذي كان له الدور الكبير في جمع كلمتهم واتحاد صفوفهم.<br />
وإن هذا من دلائل معرفة سبيل المرء، إن كان على سنة أو خلافها، فالأرواح جنود مجندة، ما تعارف منها ائتلف، وما تناكر منها اختلف. والسلف كانوا يرون مجالسة الرجل لأهل السنة، ومحبته لهم، والحرص على التتلمذ على أيديهم، ومشورتهم من علامات ذلك.<br />
وهم، فضلا ً عن ذلك، فإن لديهم معرفة بالمناهج المستحدثة، والجماعات الحزبية، والحذر منها، والتحذير منها.<br />
وهذا من المهم لدى المسلم أن يعرف الشر وأهله للحذر منه، فضلا ً عن طلاب العلم أو الدعاة إلى الله عزوجل. ولقد كان حذيفة  يقول: كان الناس يسألون عن الخير، وكنت أسأل عن الشر مخافة أن يدركني. وصدق القائل :<br />
عرفت الشر لا للشر لكـن لتوقــّّيه<br />
ومن لا يعرف الشر من الخير يقع فيه<br />
وهذا الذي رأيته فيهم هو من ثمرة التربية على أيدي العلماء الربانيين، فإن العالم الرباني هو الذي يربي طلابه تربية سنية سلفية، يتميز بها عن سائر الناس. فيجمع بين التأصيل الشرعي العقدي وبين التحذير من الشر والبدع وأهلها.<br />
وهذا ما تميز به أولئك العلماء المذكورون، وهذا والله هو النصح للمسلمين، والطلاب، أما أن يؤخذ جانب ويهمل آخر، فهذا الذي يجعل الطالب بين الإفراط حينـًا أو التفريط حينـًا آخر، ويجعله دون ركيزة علمية منهجية. وهذا الذي جعل كثيرًا من الشباب في تخبطٍ فكري، لا يفرق بين من هو سنيٌّ ومن هو بدعيٌّ ، وفي تميع عقدي، يتخبط في ولاءاته، فلا يعرف من يوالي ممن يعادي، ولا يعرف من يحب ممن يبغض، بل أنتج فيهم خلاف الواجب الإيماني، الذي هو محبة أهل السنة وبغض أهل البدع. وهذا قد رأيناه عند تلاميذ المشايخ الذين لا يولون جانب التحذير من البدع وأهلها، والحزبيات وانتماءاتها، أيَّ اهتمام، مما أنتج فيهم ذلك، بل العقوق لمشايخهم، والميل عن سبيلهم.<br />
أقول لقد رأيت في أولئك الإخوة الآداب الرفيعة، والأخلاق السامية، والنفوس الطيبة، والكرم العالي، والتعاون البناء فيما بينهم لنشر السنة والتوحيد والمنهج السلفي في وسط تلك البلاد، التي يغلب فيها التمشعر والتصوف، فضلاً عن الجماعات الحزبية.<br />
وقد لا أبالغ إن قلت أن ما رأيته أمر لا نظير له، ولم أشاهد مثله، ويشهد على ذلك هذه الأعداد الغفيرة التي حضرت المحاضرات العامة المترجمة، والتي تجاوزت العشرة آلاف، أو تلك التي حضرت الدروس والتي قاربت الخمسمائة، جاءوا من أنحاء أندونيسيا وجزرها، مع حرص على السنة، وحرص على العلم. بل أخبرت بأن هناك المزيد من طلاب العلم كان يريد الحضور لكن المكان لم يكن يتسع هذا العدد الكبير فاكتفوا ببعضهم.<br />
وهم قد أقاموا هذه الدورات على جهودهم الذاتية، مع قلة ذات اليد، وعدم قبولهم للمساعدات المشروطة من بعض الجمعيات ذات التوجهات المشبوهة، والتنظير الحزبي، والتي ما حلت في بلد أو دعوة إلا فرقت شملها، وأوجدت بين أصحابها العداوة والبغضاء، ولا حول ولا قوة إلا بالله.<br />
وهذا التفاعل والتعاون المثمر، والمسلك الناجح، إنما هو من ثمرة التربية على العلماء، والاستمرار في الارتباط بهم، والذي أًثمر فيهم استمرارًا في جهودهم، على وسطية سمحة، وحنيفية واضحة.<br />
وإن مثل هؤلاء هم الذين يستحقون المؤازرة والمناصرة والتعاون معهم في دعوتهم في نشر التوحيد والسنة والمنهج السلفي في وسط تلك البلاد التي غلب على أهلها عقيدة الأشاعرة والطرق الصوفية، فضلاًً عن الجماعات الحزبية، والفرق التكفيرية، والملل والأديان المتنوعة.<br />
فجزى الله الإخوة القائمين على هذه الدعوة، وهذه الدورات العلمية، خير الجزاء، وأعظم لهم المثوبة على ما يقومون به من أداء لهذه الأمانة، ونشر لهذه الرسالة.<br />
وإن من هؤلاء الإخوة الذين قابلتهم، الأستاذ لقمان باعبده، والأستاذ أبا المنذر، والأستاذ عسكرى، والأستاذ حنان باحنان، والأستاذ قمر سعيدي، والأستاذ أسامة بن فيصل مهري، والأستاذ عبدالصمد باوزير، والأستاذ أحمد خادم، والأستاذ رويفع، والأستاذ عبدالمعطي، والأستاذ عبدالبر، والأستاذ جعفر صالح، وغير هؤلاء ممن لا يحضرني اسمه. كما لا أنسى ذاك الشاب الأخ محمد فؤاد الذي يقوم بترجمة كثير من الكتب السلفية من العربية إلى الإندونيسية.<br />
علمًا أنه كان صينيًا كافرًا فأسلم وصح إسلامه، ومَنَّ الله عليه بالمنهج السلفي والعقيدة السنية، ونفع الله به الإسلام والمسلمين، فسبحان من يخرج الحي من الميت، ويخرج من الظلمات إلى النور، ويهدي من يشاء إلى صراط مستقيم. والحمدلله رب العالمين.<br />
وإن مما تفاجأت برؤيته مترجمًا وحمدت الله عزوجل على ذلك كثيرًا كتابي (سل السيوف والأسنة على أهل الهوى وأدعياء السنة) ، والذي هو من تقديم شيخنا الدكتور ربيع بن هادي المدخلي والذي له الجهود المباركة في نصرة إخوانه وتلاميذه وأبنائه من أهل السنة في كل مكان. والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وأسأله عزوجل أن يرزقنا الإخلاص في القول والعمل، وأن يستعملنا في طاعته والدفاع عن دينه وسنة نبيه  ، وأن يجعل ذلك في ميزان حسنات من كتب وقدم وترجم ونشر يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم.</p>
<p>(bersambung, insya Allah)</p>
<p>(Sumber : <a href="http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996" target="_blank">http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996</a> &amp; diarsipkan di <a href="http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip." target="_blank">http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip.</a> Dikirimkan oleh al akh Abu Amr melalui email)</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=24&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e44008b7c017d66659a7faf709085341?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">izzatunadinulhaq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia (2)</title>
		<link>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-2/</link>
		<comments>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 09:58:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>izzatunadinulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Diambil dari website www. salafy.or.id Penulis: Panitia Daurah Masyayikh 1430 H &#8211; 2009 .: :. MUQADDIMAH Kisah indah ini bermula dari telepon para ikhwah salafiyyin di Indonesia, meminta kepadaku untuk hadir dalam Daurah Ilmiah ke-4 yang mereka adakan, pada tahun ini (1429 H), yaitu pada awal Sya&#8217;ban selama 8 hari. Setelah bermusyawarah aku pun beristikharah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=21&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diambil dari website <a title="perjalanan syaikh abdullah 2" href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1470">www. salafy.or.id</a></p>
<p>Penulis: Panitia Daurah Masyayikh 1430 H &#8211; 2009 .: :.</p>
<p>MUQADDIMAH</p>
<p>Kisah indah ini bermula dari telepon para ikhwah salafiyyin di Indonesia, meminta kepadaku untuk hadir dalam Daurah Ilmiah ke-4 yang mereka adakan, pada tahun ini (1429 H), yaitu pada awal Sya&#8217;ban selama 8 hari. Setelah bermusyawarah aku pun beristikharah kepada Allah. Akhirnya aku putuskan untuk berangkat.  Aku memilih untuk mengajarkan Kitabul &#8216;Ilmi dari kita Shahih Al-Bukhari, dan Kitabus Sunnah dari kita Sunan Abi Dawud. Kedua kitab tersebut, termasuk kitab yang aku baca (pelajari) di hadapan para masyaikh kami yang mulia ketika mereka ikut andil pada Daurah Ilmiah pertama yang diadakan di daerah Hafrul Bathin, Masjid Jami&#8217; Mu&#8217;awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallah &#8216;anhuma. Daurah tersebut dilaksanakan pada awal bulan Rabi&#8217;uts Tsani tahun 1422 H. Kitabus Sunnah aku membaca (mempelajari)nya di hadapan Fadlilah Syaikhina Al-Muhaddits Mufti, Alim, dan Ahli Hadits di bagian selatan Kerajaan Saudi Arabia Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah rahmatan wasi&#8217;an. Sedangkan Kitabul &#8216;Ilmi baca (pelajari) di hadapan Fadhilatu Syaikhina &#8216;Ubaid bin &#8216;Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah.  Aku memulai perjalanan ilmiah ini pada hari Sabtu awal Sya&#8217;ban dari bandara Kuwait, yang aku telah memesan tiket perjalan dari sana. Kemudian transit ke bandara Abu Dhabi, lalu langsung ke bandara Jakarta, Indonesia. Perjalanan ini berlangsung selama tujuh 7 jam. Lalu menuju bandara Yogjakarta (Jogja) yang merupakan akhir perjalanan. Tiba pada malam Senin, tanggal 3 Sya&#8217;ban 1429 H. Dalam perjalanan ini aku ditemani oleh Al-Akh Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri hafizhahullah.  Sejak malam itu dimulailah sejumlah pelajaran dan muhadharah, terkhusus oleh Al-Akh Asy-Syaikh Khalid. Pelajaran dan muhadharah berlangsung hingga hari Sabtu, tanggal 8 Sya&#8217;ban 1429 H, yang dibagi antara kami bertiga : Asy-Syaikh DR. &#8216;Abdullah bin &#8216;Abdurrahim Al-Bukhari, n Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri, dan aku sebagai penulis baris-baris ini (yakni Asy-Syaikh &#8216;Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri).  Di sela-sela daurah tersebut, kami bertemu dengan saudara-saudara kita fillah dari para ikhwah Ahlus Sunnah, duduk bersama mereka, melihat mereka, dan mengetahui berita mereka yang mendinginkan dada orang yang beriman, membangkitkan harapan kepada Allah bahwasa Dia-lah penolong agama-Nya dan yang memenangkan sunnah Nabi-Nya meskipun para pembuat tipu daya dan makar dari kalangan para syaithan -baik syaithan manusia maupun jin- dan dari kalangan orang-orang kafir dan komunis, serta juga para ahli bid&#8217;ah dan pengekor hawa nafsu.  Pembahasanku pada baris-baris ini terbagi dalam lima pembahasan, yaitu: 1. Tentang ikhwah (asatidzah) Ahlus Sunnah Salafiyyin panitia penyelenggara daurah dan para pengampu dakwah di sana. 2. Tentang Daurah Ilmiah Keduanya merupakan tujuan utama dari perjalanan. 3. Tentang risalah-risalah yang selesai dibacakan selama perjalanan, serta faidah-faidah ilmiah yang terdapat di dalamnya tambahan tambahan keterangan yang penting. 4. Tentang kondisi negeri tersebut, dan berbagai kenikmatan yang Allah berikan padanya berupa pemandangan yang indah dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang menakjubkan. 5. Tentang apa yang aku lihat di sela-sela perjalanan ini berupa maksiat, penyimpangan, penentangan terhadap Allah, dan terang-terangan dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah, serta apa yang menjadi kewajiban bagi kaum muslimin, baik raykat maupun pemerintahnya, dalam menghadapi berbagai permasalahan tersebut.  Dengan memohon kepada Allah agar memberikan kekokohan kepada kita di atas Islam dan As-Sunnah, serta menjadikan kita sebagai pemberi petunjuk yang mendapatkan hidayah.  Transkrip Arab :  بدأ هذا المشوار باتصال من الإخوة السلفيين في أندونيسيا بطلب المشاركة معهم في دورتهم العلمية الرابعة لهذا العام والتي كانت ستقام في غرة شعبان لمدة ثمانية أيام. فاستخرت الله تعالى بعد المشورة، ومن ثـَـمَّ قررت الذهاب، واخترت للتدريس كتابي العلم من صحيح البخاري، والسنة من سنن أبي داود. وهما مما قرأته على مشايخنا الأجلاء في مشاركتهم في أول دورة علمية أقيمت بجامـعنـا بحفـر البـاطـن جـامع معاوية بن أبي سفيان ، وذلك في غرة ربيع الثاني من عام ألف وأربعمائة واثنين وعشرين. فكتاب السنة قرأته على فضيلة شيخنا المحدث مفتي الجنوب وعالمها ومحدثها أحمد بن يحيى النجمي رحمه الله رحمة واسعة، وكتاب العلم قرأته على فضيلة شيخنا عبيد بن عبدالله الجابري حفظه الله تعالى. وبدأت هذه الرحلة العلمية الدعوية من يوم السبت أول شعبان من مطار الكويت &#8211; حيث تم الحجز لي منه، ومنه إلى مطار أبي ظبي، ومنه إلى مطار جاكرتا بأندونيسيا، حيث استمرت الرحلة سبع ساعات، ومنه إلى مطار جكجكرتا (ججا) نهاية المطاف وذلك ليلة الإثنين ليلة الثالث من شعبان. وكان المرافق معي في هذه الرحلة الأخ الشيخ خالد بن ضحوي الظفيري. وبدأت الدروس والمحاضرات من تلك الليلة خاصة للأخ الشيخ خالد، واستمرت الدروس والمحاضرات إلى يوم السبت الثامن من شعبان، حيث كانت مقسمة بيننا نحن الثلاثة: الشيخ الدكتور عبدالله بن عبدالرحيم البخـاري، والشيخ خالد بن ضحوي الظفيري، وأنا كاتب هذه السطور. وخلالها قد التقينا مع إخوة لنا في الله، من إخواننا أهل السنة، من جلوس معهم، ورؤياهم، ومعرفة أخبارهم التي تثلج صدر المؤمن، وتبعث الأمل بالله بأن الله تعالى ناصر دينه، ومظهر سنة نبيه ، مهما كاد الكائدون، ومكر الماكرون، من شياطين الإنس والجن، ومن أهل الكفر والإلحاد، وأهل البدع والأهواء. وسيكون حديثي في هذه الأسطر مقسمًا على خمسة أمور، وهي : أولا ً: الحديث عن الإخوة أهل السنة السلفيين القائمين على الدورة والدعوة هناك. ثانيًا: الحديث عن الدورة العلمية. وهذان هما بيت القصيد من الرحلة. ثالثـًا: الحديث عن بعض الرسائل التي تم قراءتها خلال الرحلة، وما فيها من فوائد علمية، أو إضافة تعليق مهم. رابعًا: الحديث عن طبيعة تلك البلاد، وما أنعم الله عليها من مناظر خلابة، وآيات عجيبة. خامسًا: الحديث عما رأيت خلال هذه الرحلة من معاص ٍ ومحادةٍ ومعاندة لله تعالى، ومن مجاهرةٍ في عصيان الله عزوجل، وما الواجب على المسلمين، شعوبًا وحكومات تجاه ذلك.  سائلا ً الله عزوجل أن يثبتنا على الإسلام والسنة، وأن يجعلنا هداة مهتدين.  (bersambung, insya Allah)  (Sumber : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996 &amp; diarsipkan di http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip. Dikirimkan oleh al akh Abu Amr melalui email)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=21&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e44008b7c017d66659a7faf709085341?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">izzatunadinulhaq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia</title>
		<link>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia/</link>
		<comments>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 09:53:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>izzatunadinulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia Diambil dari website www.salafy.or.id link asli:  http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1467 Penulis: Redaksi Salafy.or.id بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين، خالق الخلق أجمعين، ومقسم الأرزاق بين العباد من مسلمين وكافرين، وجاعل الفوز في الآخرة للموحدين المؤمنين. والصلاة والسلام على المبعوث لجميع الثقلين، وإلى العرب والأعجمين، جعل شريعته مهيمنة على جميع [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=19&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia</div>
<div></div>
<div>Diambil dari website www.salafy.or.id</div>
<div>link asli:  <a href="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1467">http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1467</a></div>
<div>Penulis: Redaksi Salafy.or.id</div>
<div></div>
<div>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين، خالق الخلق أجمعين، ومقسم الأرزاق بين العباد من مسلمين وكافرين، وجاعل الفوز في الآخرة للموحدين المؤمنين.<br />
والصلاة والسلام على المبعوث لجميع الثقلين، وإلى العرب والأعجمين، جعل شريعته مهيمنة على جميع شرائع الأولين، ودينه ناسخًا لجميع أديان المرسلين، من اتبع هديه وسنته أعزه الله وأعلى ذكره، ومن حاد عن أمره، وجانب هديه كتب عليه الصغار والذله … أما بعد:</p>
<p>Segala puji hanya bagi Allah Rabbul &#8216;Alamin, Pencipta seluruh makhluk, Yang membagikan rezki kepada segenap hamba-Nya, baik kaum muslimin maupun kaum kafir, dan Dia-lah yang menjadikan kesuksesan di akhirat bagi para muwahhidin mu`minin.</p>
<p>Shalawat dan Salam kepada Rasul yang diutus kepada bangsa jin dan manusia semuanya, kepada bangsa &#8216;Arab dan non Arab. Allah telah menjadikan syari&#8217;at beliau sebagai batu ujian bagi segenap syari&#8217;at sebelumnya, agama beliau sebagai penghapus seluruh agama para rasul sebelum. Barangsiapa yang mengikuti bimbingan dan sunnah beliau, maka akan Allah muliakan dia dan dan Allah tinggikan kedudukannya. Dan barangsiapa menentang perintah beliau, menjauhi bimbingan beliau maka Allah tetapkan atasnya kehinaan dan kerendahan.</p>
<p>Amma ba&#8217;d,</p>
<p>Huruf-huruf dan kata-kata ini aku torehkan pertama kali ketika aku berada di atas pesawat dalam perjalanan pulangku dari negeri Indonesia tatkala melewati Bandara Abu Dhabi Emirat Arab. Perjalanan tersebut memakan waktu tujuh jam di udara, kami menempuh jarak sekitar kurang lebih 7.000 km. Yaitu setelah aku turut serta dalam Daurah Ilmiyyah ke-4 di Ma&#8217;had Al-Anshar Yogyakarta (Jogja) Indonesia. Turut serta pula dalam acara tersebut saudaraku Asy-Syaikh DR. &#8216;Abdullah bin &#8216;Abdirrahim Al-Bukhari, profesor hadits di Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam dan saudaraku Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri, yang sekarang sedang menempuh program doktoral di Universitas Islam Madinah.</p>
<p>Selama waktu yang panjang dalam perjalanan, yang aku habiskan untuk membaca dan menulis, terbayang dalam pikiran dan benakku terhadap semua yang aku saksikan dan aku dengar semenjak safarku hingga kembaliku. Maka sebagian darinya aku tuliskan, dalam rangka memberikan dorongan kepada ikhwah Indonesia atas aktivitas yang mereka lakukan selama ini berupa dakwah dan semangat menyebarkan ilmu dan sunnah. Sekaligus sebagai dorongan bagi saudara-saudaraku para masyaikh dan para thullabul &#8216;ilmi untuk membantu mereka dan mengunjungi mereka. Serta dalam rangka menampakkan kebaikan yang telah aku saksikan, berupa semangat yang besar dalam menuntut ilmu dan mengikuti as-sunnah, yang itu membuat senang hati seorang mukmin di satu sisi, dan membangkitkan semangat bagi para penuntut ilmu dan para da&#8217;i sunnah di sisi lain. Disamping juga dalam rangka menjelaskan sikap yang wajib atas seorang muslim terkait fenomena-fenomena kemungkaran yang menyelisihi syari&#8217;at Allah Yang Maha Bijaksana.</p>
<p>Saya memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita kekokohan di atas Islam dan di atas Sunnah, melindungi kita dari kejelekan fitnah baik yang tampak maupun tidak, serta menjadikan urusan kaum muslimin di setiap tempat menjadi baik.</p>
<p>Kaum muslimin pada hari ini di setiap tempat &#8212; kecuali yang dirahmati oleh Rabb-ku dan jumlah mereka sedikit – berada dalam kondisi yang menyedihkan, yang sebenarnya mereka sangat membutuhkan pemimpin yang adil dan membimbing (mereka), takut kepada Allah dalam urusan kaum muslimin, serta sangat semangat membela Islam dan Syari&#8217;at-Nya.</p>
<p>والله المستعان ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.</p>
<p>Ditulis oleh hamba yang faqir (sangat butuh) kepada Rabbnya<br />
&#8216;Abdullah bin Shalfiq Al-Qasimi Azh-Zhafiri</p>
<p>Awal mula ditulis di antara langit dan bumi, antara Jakarta dan Abu Dhabi</p>
<p>Sore hari Ahad, bertepatan dengan 9/8/1429 H</p>
<p>Teks Arab :</p>
<p>رحلتي إلى أندونيسيا</p>
<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين، خالق الخلق أجمعين، ومقسم الأرزاق بين العباد من مسلمين وكافرين، وجاعل الفوز في الآخرة للموحدين المؤمنين.<br />
والصلاة والسلام على المبعوث لجميع الثقلين، وإلى العرب والأعجمين، جعل شريعته مهيمنة على جميع شرائع الأولين، ودينه ناسخًا لجميع أديان المرسلين، من اتبع هديه وسنته أعزه الله وأعلى ذكره، ومن حاد عن أمره، وجانب هديه كتب عليه الصغار والذله … أما بعد:<br />
فهذه الحروف والكلمات كتبتها بداية وأنا على ظهر الطائرة أثناء عودتي من بلاد أندونيسيا مرورًا بمطار أبي ظبي بالإمارات، والتي استغرقت سبع ساعات في الجو، قطعنا فيها ما يقارب السبعة آلاف كيلو مترًا تقريبًَا، وذلك بعد مشاركتي في الدورة العلمية الرابعة بمعهد الأنصار في بلدة جكجكرتا (ججا) في أندونيسيا، والتي شارك فيها أيضًا أخي الشيخ الدكتور عبدالله بن عبدالرحيم البخاري أستاذ الحديث بكلية الحديث الشريف في الجامعة الإسلامية، وأخي الشيخ خالد بن ضحوي الظفيري، الدارس في مرحلة الدكتوراة في الجامعة الإسلامية.<br />
وخلال هذه المدة الطويلة في الرحلة، والتي كنت أقضيها ما بين قراءة وكتابة، جال فكري وخاطري فيما شاهدت وسمعت منذ سفري حتى عودتي، فدونت شيئــًا من ذلك، حثـًا للإخوة الأندونيسيين على ما هم عليه من الدعوة والحرص على نشر العلم والسنة، وحثـًا لإخواننا المشايخ وطلاب العلم على مساندتهم ومؤازرتهم، وإبرازًا لمثل هذا الخير الذي رأيته من حرصٍ على طلب العلم واتباعٍ للسنة، مما يفرح قلب المؤمن من جهة، ويشحذ الهمم عند طلبة العلم ودعاة السنة من جهة أخرى، بالإضافة إلى بيان موقف المسلم والواجب الإيماني تجاه المشاهد المنكرة المخالفة لشرع الله الحكيم.<br />
سائلا ً الله عزوجل أن يَمُنَّ علينا بالثبات على الإسلام والسنة، وأن يعيذنا شَرَّ الفتن ما ظهر منها وما بطن، وأن يهيئ للمسلمين في كل مكان من أمرهم رشدًا .<br />
فالمسلمون اليوم &#8211; في كل مكان &#8211; إلا مارحم ربي وقليل ما هم &#8211; في أمر محزن، وحالٍ مبكٍ، يحتاج في حقيقة الأمر إلى قيادة راشدة ناصحة تخاف الله في المسلمين، وتغار على الإسلام وشرائِعه. والله المستعان ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.</p>
<p>وكتبه<br />
العبد الفقير إلى مولاه<br />
عبدالله بن صلفيق القاسمي الظفيري<br />
وكتب أصله فيما بين السماء والأرض وبين جاكرتا وأبي ظبي، مساء يوم الأحد الموافق 9/8/1429هـ</p>
<p>تابع البحث في الملف</p>
<p>على هذا الرابط</p>
<p>هنـــــــــــــــــــــــ ـــــــــــــــا<a href="http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip" target="_blank">http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip</a></p>
<p>(Sumber : <a href="http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996" target="_blank">http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996</a> &amp; diarsipkan di <a href="http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip." target="_blank">http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip.</a> Dikirimkan oleh al akh Abu Amr melalui email)</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=19&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2010/02/07/syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-ke-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e44008b7c017d66659a7faf709085341?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">izzatunadinulhaq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ringkasan Sifat Puasa Nabi (Bag. I)</title>
		<link>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2009/10/04/ringkasan-sifat-puasa-nabi-bag-i/</link>
		<comments>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2009/10/04/ringkasan-sifat-puasa-nabi-bag-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 14:04:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>izzatunadinulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[مختصر صفة صوم النبي Penerjemah, Ust. Abu Hudzaifah Editor, Ust. Muhammad Fuad, Lc PENDAHULUAN Sesungguhnya segala puji milik Allah, kami memuji-Nya, meminta bantuan-Nya memohon ampunan-Nya, dan kami berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kami serta keburukan amal-amal kami. Barang siapa yang Allah beri hidayah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang Dia sesatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=15&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>مختصر صفة صوم النبي</p>
<p>Penerjemah, Ust. Abu Hudzaifah<br />
Editor, Ust. Muhammad Fuad, Lc</p>
<p>PENDAHULUAN</p>
<p>Sesungguhnya segala puji milik Allah, kami memuji-Nya, meminta bantuan-Nya memohon ampunan-Nya, dan kami berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kami serta keburukan amal-amal kami. Barang siapa yang Allah beri hidayah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang Dia sesatkan maka tidak ada yang memberinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah satu satunya yang tidak ada sekutu baginya dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du;<br />
Wahai saudara-saudaraku (mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai-Nya dan mengikuti sunnah Rasul-Nya) akan jelas bagi kita keduduan puasa dalam Islam, pahala, keutamaan dan kemuliaan yang akan didapat oleh orang yang berpuasa karena mengharap wajah Allah. Bahwasanya keutamaan tersebut berbeda-beda besar kecilnya sesuai dengan dekat atau jauhnya orang berpuasa dari sunnah Rasul sebagaimana telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad, “Betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapat rasa lapar dan dahaga dari puasanya”. (Hadits shahih riwayat Ibnu Majah, Darimi, Ahmad dan Baihaqi melalui Sa’id Al-Maqbary dari Abu Hurairah)<br />
Oleh karena itu mengetahui sifat puasa nabi merupakan suatu hal yang harus dilakukan, demikian pula mengetahui kewajiban-kewajiban, adab-adab, dan do’a-do’a dalam puasa kemudian mengamalkanya dalam amalan sehari-hari.<br />
Buku yang ada di hadapan kita ini merupakan terjemahan dari “Mukhtashar Shifat Shoum Nabi” yang berisi tentang puasa disertai dalil-dalil dari Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. Semoga buku ini membantu kita –seizin Allah- untuk mengetahui sifat-sifat puasa Nabi secara benar, sehingga kita mendapat keutamaan-keutamaan secara sempurna dalam berpuasa. Semoga Allah menjadikan amalan-amalan kita sebagai amalan yang shalih . wallahu a’lam.</p>
<p>KEUTAMAAN PUASA</p>
<p>• Puasa adalah tameng<br />
Rasulullah bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mempunyai kemampuan untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya hal tersebut lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kemaluan. Dan Barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya berpuasa karena sesungguhnya puasa itu pelindung/tameng.” (HR. Bukhari-Muslim)<br />
Dan yang dimaksudkan dengan pelindung/tameng adalah pemutus syahwat jima’ (hubungan suami istri)<br />
Dan beliau bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka dengan puasanya itu tujuh puluh tahun perjalanan.” (HR. Bukhari-Muslim)<br />
Dan beliau bersabda, “Puasa itu adalah tameng yang seorang hamba bisa berlindung dengannya dari api neraka.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad)<br />
Dan beliau bersabda, “Barang siapa puasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjadikan parit (jarak) antara dia dan neraka sejauh langit dan bumi.” (Hadits riwayat Tirmidzi).</p>
<p>• Puasa memasukkan seseorang ke dalam surga<br />
Dari Abu Umamah berkata, “Ya Rasulullah tunjukan kepadaku sebuah amal yang akan memasukkanku ke dalam surga”, Rasulullah bersabda, “Hendaknya kamu berpuasa, tidak ada yang menyamainya.” (Hadits shohih riwayat Ibnu Hibban )<br />
Dan beliau bersabda, “Wahai Hudzaifah, barang siapa yang meninggal dalam keadaan dia berpuasa di hari yang dia mengharap wajah Allah dengan puasa tersebut, maka Allah akan memasukannya ke dalam surga.” (Hadits shohih riwayat Ashbahani)</p>
<p>- Orang yang berpuasa akan dipenuhi pahalanya tanpa batas.<br />
- Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan.<br />
- Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misik.</p>
<p>Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, “Setiap amalan keturunan Adam memiliki pahala yang telah ditentukan kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan aku yang akan membalasnya. Dan puasa itu adalah tameng maka apabila di hari puasa kalian janganlah berkata keji dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencelanya atau hendak menyerangnya, hendaknya ia mengatakan, ‘Saya sedang puasa’. Dan demi yang jiwa Muhammad yang ada di tangan-Nya, bau mulut oang yang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah dari bau misik. Dan orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan yang ia bergembira dengannya: apabila ia berbuka ia bergembira dan apabila bertemu dengan Rabbnya ia bergembira dengan puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafazh ini milik Bukhari. Sedangkan dalam sebuah riwayat miliknya dengan lafazh, “Ia meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Aku. Puasanya untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, sedangkan kebaikan secara umum dibalas sepuluh kali lipatnya.” Dan dalam riwayat Muslim, “Setiap amalan keturunan Adam akan dilipat-gandakan, kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus. Allah berfirman, “kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. Dan orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan, kebahagiaan tatkala ia berbuka dan kebahagiaan tatkala bertemu Rabbnya. Dan benar-benar bau mulut orang yang berpuasa disisi Allah lebih harum dari bau misik.”</p>
<p>• Puasa dan Al Qur’an akan menjadi syafa’at bagi pemiliknya<br />
Rasulullah bersabda, “Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan mengatakan, ‘Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makanan dan syahwat maka terimalah syafa’at untuk dia’. Dan Al Qur’an mengatakan, ‘Aku telah menghalanginya dari tidur di waktu malam maka terimalah syafa’atku untuknya’. Rasulullah bersabda, “Maka keduanya memberi syafa’at.” (Hadits shohih riwayat Ahmad )</p>
<p>• Puasa adalah kaffarah<br />
Allah berfirman tentang kaffarah membunuh:</p>
<p>Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat daripada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa&#8217;: 92)</p>
<p>Dan Allah berfirman tentang kaffarah sumpah:</p>
<p>Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). (Al Maidah:89).</p>
<p>Dan Rasulullah bersabda, “Keburukan seseorang terhadap keluarga, harta, dan tetangganya akan terhapus oleh shalat, puasa, dan shadaqah.” (HR. Bukhari-Muslim)</p>
<p>• Ar-Royyan bagi orang orang yang berpuasa<br />
Dari Nabi beliau bersabda:, “Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang dinamakan dengan Ar Rayyan. Orang-orang yang berpuasa masuk dari pintu tersebut pada hari kiamat dan tidak masuk darinya selain mereka, lalu pintu tersebut dikunci maka tidak bisa masuk darinya seorang pun.” (HR Bukhari-Muslim)</p>
<p>• Terkabulnya do’a orang yang berpuasa<br />
Rasulullah bersabda, “Ada tiga do’a yang dikabulkan: doa orang yang berpuasa, doa orang yang dizholimi, dan doa musafir.” (Hadits shohih riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman)<br />
Dan beliau bersabda, “Sesungguhnya bagi setiap muslim pada setiap malam dan siangnya (Ramadhan) mempunyai do’a yang terkabulkan.” (Hadits shohih riwayat Bazzar)<br />
Berkata peringkasnya: Hadits (Sesungguhnya orang yang berpuasa mempumyai doa yang tidak akan ditolak tatkala berbuka). Hadits ini tidak shahih sebagaimana terdapat dalam Al Irwa hadits nomor 921. Dan hadits-hadits yang telah lalu waktu berbuka saja. Wallahu a’lam.</p>
<p>bersifat mutlak, maka tidak ada pengkhususan do’a yang terkabulkan itu pada waktu berbuka saja. Wallahu a’lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=15&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2009/10/04/ringkasan-sifat-puasa-nabi-bag-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e44008b7c017d66659a7faf709085341?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">izzatunadinulhaq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ringkasan Sifat Puasa Nabi (Bag. II)</title>
		<link>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2009/10/04/ringkasan-sifat-puasa-nabi-bag-ii/</link>
		<comments>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2009/10/04/ringkasan-sifat-puasa-nabi-bag-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 13:55:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>izzatunadinulhaq</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN 1. Bulan Al Qur’an Allah berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur&#8217;an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=9&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN</p>
<p>1.	Bulan Al Qur’an<br />
Allah berfirman:</p>
<p>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur&#8217;an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (Al Baqarah: 185)</p>
<p>2.  Dibelenggunya setan-setan, di tutupnya pintu-pintu neraka dan di bukanya pintu-pintu surga<br />
Rasulullah bersabda, “Apabila datang bulan Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu surga ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah setan-setan.” (HR. Bukhori-Muslim)<br />
Dalam sebuah riwayat Muslim: “Dibuka pintu-pintu rahmat, ditutup pintu-pintu neraka dan setan-setan dibelenggu.”<br />
Dan itu semua terjadi mulai awal malam bulan yang berkah ini, berdasarkan sabda Rasulullah, “Apabila masuk awal malam dari bulan Ramadhan, dibelenggulah setan-setan dan jin-jin jahat, ditutup pintu-pintu neraka sehingga tidak terbuka satu pintupun dan dibuka pintu-pintu surga sehingga tidak tertutup satu pintupun, dan seorang penyeru mengatakan, ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan, menghadaplah! wahai orang yang menginginkan kejelekan, berhentilah!’ Dan Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari neraka setiap harinya.” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi)</p>
<p>KEWAJIBAN PUASA RAMADHAN</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al Baqarah:185)</p>
<p>Dan Rasulullah bersabda, “Islam dibangun diatas lima pondasi: Syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke baitullah dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari-Muslim)</p>
<p>MOTIVASI PUASA RAMADHAN</p>
<p>•	Pengampunan dosa<br />
Dari Nabi, beliau bersabda, “Barang siapa berpuasa di bulan ramadhan dengan keimanan dan mengharap wajah Alloh niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori-Muslim)<br />
Dan beliau bersabda, “Sholat lima waktu, satu jum’at ke jum’at berikut, satu Ramadhan ke Ramadhan berikut menghapus kesalahan yang di antara keduanya apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)<br />
Dan Nabi pernah naik ke mimbar kemudian beliau mengatakan, “amin….. amin….. amin.” Maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau naik ke mimbar lalu mengatakan amin…… amin….. amin?” Maka Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Jibril mendatangiku kemudian mengatakan, ‘Orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya kemudian masuk ke neraka semoga dijauhkan oleh Allah. Katakan, ‘amin’ maka aku katakan, ‘amin’.” (Hadits shahih riwayat Ibnu Hibban).</p>
<p>•	Dikabulkan do’a dan pembebasan dari neraka<br />
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari neraka setiap malamnya –yaitu di bulan Ramadhan- dan sesungguhnya setiap muslim mempunyai doa yang terkabul setiap malam dan siangnya.” (Hadits shohih riwayat Al Bazzar)</p>
<p>•	Orang yang berpuasa termasuk golongan Shiddiqin dan Syuhada’<br />
Seseorang mendatangi Nabi kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwasanya engkau adalah utusan Allah, dan aku melakukan sholat lima waktu, aku tunaikan zakat, dan aku puasa di bulan Ramadhan, maka aku termasuk golongan yang mana?” Rasulullah bersabda, “Termasuk shiddiqin dan syuhada’.” (Hadits shohih riwayat Ibnu Hibban).</p>
<p>KEWAJIBANMU DI BULAN RAMADHAN</p>
<p>Ketahuilah saudaraku seislam, bahwasanya Allah telah mewajibkan atas kita puasa supaya kita beribadah kepada Allah dengannya. Maka supaya puasamu diterima dan bermanfaat, lakukan hal-hal berikut:<br />
1. Peliharalah sholat. Kebanyakan dari orang-orang yang berpuasa menyepelekan sholatnya, padahal sholat merupakan tiang agama dan meninggalkannya termasuk kekufuran.<br />
2. Jadilah orang yang berakhlaq baik dan jauhilah perbuatan kufur, mencela agama, atau bergaul dengan manusia dengan cara yang jelek demi puasamu. Karena puasa itu mendidik jiwa dan tidak membuat akhlaq menjadi jelek. Sedangkan kekufuran akan mengeluarkan seorang muslim dari agamanya.<br />
3. Janganlah berbicara dengan kata-kata yang jorok walaupun bersenda gurau sehingga akan menyia-nyiakan puasamu. Dengarlah sabda Rasulullah, “Apabila di hari puasa salah seorang dari kalian, maka janganlah berkata keji dan berteriak-teriak. Lalu apabila ada yang mencelanya atau menyerangnya hendaknya ia mengatakan, “Saya sedang puasa, saya sedang puasa.” (HR. Bukhari-Muslim)<br />
4. Ambilah manfaat dari puasamu untuk meninggalkan rokok yang dapat menyebabkan kanker dan lemah jantung, serta berusahalah menguatkan tekadmu untuk meninggalkannya di waktu malam sehingga engkau bisa menjaga kesehatan dan hartamu.<br />
5.	Jangan berlebih-lebihan ketika berbuka sehingga hilanglah manfaat puasamu dan berakibat jelek terhadap kesehatanmu.<br />
6. Jangan pergi ke bioskop atau menonton televisi yang engkau menyaksikan sesuatu yang akan merusak akhlaqmu dan tidak sesuai dengan puasamu.<br />
7. Jangan banyak bergadang sehingga engkau terlewatkan sahur dan sholat shubuh. Dan hendaklah engkau melakukan aktifitas pagi, karena Rasulullah bersabda, “Ya Allah, berkahilah umatku di pagi mereka.” (Hadits shahih riwayat Ahmad).<br />
8. Perbanyaklah shadaqah kepada kaum kerabat yang membutuhkan, lakukanlah silaturrahmi dan damaikanlah antara orang-orang yang bertikai.<br />
9. Perbanyaklah dzikir kepada Allah, membaca dan mendengarkan Al Qur’an, mentadabburi maknanya, mengamalkannya dan pergilah ke masjid-majid untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran yang bermanfaat. Dan beri’tikaf di masjid pada akhir Ramadhan hukumnya sunnah.<br />
10.	Bacalah risalah tentang puasa untuk mengetahui hukum-hukumnya.<br />
11. Jagalah puasa Ramadhanmu, biasakan anak-anakmu untuk berpuasa selama mereka mampu dan janganlah berbuka tanpa ada udzur. Maka barang siapa yang berbuka satu hari dengan sengaja ia wajib untuk mengqodho dan bertaubat.<br />
Peringkasnya berkata: “Ucapannya (ia wajib mengqodho’) ada khilaf diantara ulama, orang yang berpendapat dengannya sesungguhnya ia mengqiaskannya dengan orang yang berhubungan dengan istrinya. Sedangkan Syaikhul Islam Rahimahullah memilih tidak adanya qadha’ sebagaimana dalam Al Ikhtiyarat halaman 109.<br />
12. Jauhilah wahai saudara muslim, berbuka di bulan Ramadhan apalagi menampakannya di hadapan manusia. Berbuka di bulan Ramadhan termasuk kelancangan kepada Alla,h menyepelekan Islam, dan tidak punya malu di tengah-tengah manusia. Dan ketahuilah bahwa orang yang tidak berpuasa maka tidak ada hari raya untuknya. Sebab hari raya adalah kebahagiaan yang besar dengan sempurnanya puasa dan terkabulnya ibadah.</p>
<p>Ancaman bagi berbuka di bulan Ramadhan secara sengaja Rasulullah bercerita: “Tatkala saya tidur, dua orang mendatangiku kemudian mengambil lenganku dan membawaku ke sebuah gunung yang berlumpur. Kemudian keduanya berkata, ‘Naiklah’. Maka saya katakan, ‘Saya tidak mampu’. Kemudian keduanya berkata, ‘Kami akan memudahkannya bagimu’. Maka saya menaikinya, sampai tatkala saya sampai di puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Saya katakan, ‘Suara apa ini?’ mereka mengatakan, ‘Ini adalah jeritan penduduk neraka’. Kemudian mereka pergi bersamaku. Tiba-tiba saya berada pada sebuah kaum yang digantung pada tumit-tumit mereka, mulut mereka dirobek dan mengalirkan darah darinya. Saya bertanya, ‘Siapa mereka?’ keduanya mengatakan, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum waktu buka puasa’.” (Hadits shohih riwayat Ibnu Khuzaimah)</p>
<p>Hukum-Hukum Puasa<br />
=================<br />
Rasulullah saw. Bersabda: &#8220;Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal Ramadhan) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal Syawal). Apabila kalian terhalangi oleh awan maka sempurnakanlah Sya&#8217;ban menjadi tiga puluh hari.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)<br />
Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan (sudah masuk Ramadhan atau belum) sungguh ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim.<br />
Rasulullah saw bersabda, &#8220;Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali seseorang yang rutin berpuasa maka berpuasalah.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)<br />
Dan dari &#8216;Ammar Radhiyallahu &#8216;anhu: &#8220;Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan padanya, sungguh ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim saw.&#8221; (Hadits shahih riwayat At Tirmidzi)</p>
<p>Kewajiban melakukan niat pada puasa wajib sebelum terbit fajar<br />
Rasulullah saw. bersabda: &#8220;Barangsiapa yang tidak berniat melakukan puasa pada malam harinya (sebelum terbit fajar), maka tidak ada puasa baginya.&#8221; (Hadits shahih riwayat An Nasa&#8217;i)<br />
Dan niat tempatnya di hati. Adapun melafadzkan niat maka itu diada-adakan dan salah, walaupun manusia memandangnya sebagai sesuatu yang baik. Dan kewajiban niat itu khusus pada puasa wajib bukan puasa sunnah.&#8221;<br />
Adapun orang yang mendapati bulan Ramadhan dalam keadaan ia tidak tahu sehingga ia makan dan minum setelah itu baru mengetahuinya (telah masuk Ramadhan), maka hendaknya ia menahan diri dan menyempurnakan puasanya dan tidak ada qadha&#8217; atasnya. Karena Nabi saw tatkala memerintahkan manusia dengan puasa &#8216;Asyura –dan puasa &#8216;Asyura hukumnya wajib di awal Islam- beliau memerintahkan orang yang telah makan pada hari itu untuk menahan diri pada sisa hari tersebut dan tidak memerintahkannya untuk melakukan qadha&#8217;.</p>
<p>Waktu puasa<br />
============<br />
Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) waktu malam&#8221;. (Al Baqarah: 187)<br />
Ayat ini memberikan batasan rambu-rambu orang yang berpuasa: permulaan dan akhirnya. Hal itu dimulai sejak terbitnya fajar sampai berlalunya siang dan masuknya malam dengan terbenamnya bulatan matahari.<br />
Adapun imsak (menahan diri) dari makan sebelum terbitnya fajar shadiq dengan alasan berhati-hati maka hal ini termasuk diada-adakan.</p>
<p>Perintah untuk melakukan sahur bukan kewajiban<br />
Rasulullah saw bersabda, &#8220;Makan sahurlah kalian, karena didalam sahur itu ada berkah.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)<br />
Perintah disini berfaedah sunnah berdasarkan ijma&#8217;nya ulama&#8217;. Seorang shahabat Nabi saw berkata: &#8220;Saya menemui Nabi saw dalam keadaan beliau makan sahur. Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ini adalah barakah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian meninggalkannya.&#8221; (Hadits shahih riwayat An Nasa&#8217;i)<br />
Adapun makan sahur itu sebagai sesuatu yang barakah maka hal itu sangatlah terang, (pertama) karena ini mengikuti sunnah, menguatkan orang yang berpuasa dan lebih menambah semangat berpuasa karena ringannya kesusahan atas orang yang berpuasa, serta juga penyelisihan terhadap ahlul kitab karena mereka tidak makan sahur. Rasulullah saw bersabda, &#8220;Sahur itu makanan yang barakah, maka janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang melakukan sahur.&#8221; (Hadits hasan riwayat Ahmad)<br />
Paling afdhalnya makanan sahur seorang muslim adalah kurma, berdasarkan sabda Rasulullah saw, &#8220;Sebaik-baik sahurnya seorang muslim adalah kurma.&#8221; (Hadits shahih riwayat Abu Dawud)<br />
Disunnahkan melakukan sahur sampai menjelang terbit fajar. Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu &#8216;anhu, &#8220;Kami makan sahur bersama Nabi saw, kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat –yaitu shalat shubuh- Anas bertanya, “Berapa jarak antara adzan dengan sahur?&#8221; Zaid berkata, &#8220;Sekedar bacaan lima puluh ayat.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Seseorang yang mendengarkan adzan shubuh sedangkan gelas masih di tangannya, Termasuk dari rahmat Allah terhadap hambanya, Allah telah menghalalkan bagi seorang yang mendengar adzan shubuh yang kedua (ed.: yaitu adzan untuk shalat shubuh) sedangkan gelas masih ada di tangannya, agar ia tidak meletakkannya sampai ia menyelesaikan kebutuhan darinya. Rasulullah saw bersabda, &#8220;Apabila seseorang kalian mendengar seruan adzan sedangkan gelas masih ada di tangannya, maka jangan ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajatnya.&#8221; (Hadits shahih riwayat Ahmad dan yang lainnya)</p>
<p>Perkara yang wajib ditinggalkan oleh orang yang berpuasa<br />
========================================================<br />
Orang yang berpuasa adalah orang yang berpuasa anggota badannya dari perbuatan dosa, lisannya dari perkataan dusta, keji dan palsu, perutnya dari makan dan minum, serta kemaluannya dari perbuatan kotor. Apabila ia berbicara maka ia tidak berkata dengan sesuatu yang dapat mencacat puasanya, apabila ia berbuat maka ia tidak melakukan sesuatu yang dapat merusak puasanya. Sehingga yang muncul dari dirinya perkataan yang baik dan amal yang shaleh, dan inilah puasa yang disyari&#8217;atkan, bukan sekedar menahan diri dari makan, minum dan syahwat, Rasulullah saw bersabda, &#8220;Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan tetap melakukannya, maka Allah tidak butuh (meskipun) ia tinggalkan makanan dan minumnya.&#8221; (HR. Bukhari)<br />
Rasulullah saw. juga bersabda: &#8220;Bukanlah puasa itu menahan dari makan dan minum saja, akan tetapi puasa itu menahan dari perbuatan sia-sia dan perbutan keji, apabila ada seseorang mencelamu atau berbuat jelek terhadapmu, maka hendaknya ia mengatakan, ‘Saya sedang puasa, saya sedang puasa’.&#8221; (Hadits shahih riwayat Ibnu Khuzaimah)</p>
<p>Perkara-perkara yang membatalkan puasa:<br />
=======================================<br />
1. Makan dan minum dengan sengaja</p>
<p>Allah berfirman:<br />
&#8220;Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam&#8221;. (QS. Al Baqarah:187)<br />
Maka apabila seseorang yang berpuasa makan atau minum batal puasanya.</p>
<p>2. Menyengaja muntah<br />
Seseorang yang sengaja muntah batal puasanya. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang dikalahkan oleh muntahnya, maka tidak ada qadha’ atasnya. Dan barangsiapa yang menyengaja muntah, maka hendaknya ia mengqadha’.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan lainnya)</p>
<p>3. Haid dan nifas<br />
Apabila seorang perempuan mengalami haid atau nifas pada salah satu bagian siang, sama saja di awal atau akhirnya, maka batal puasanya dan wajib mengqadha’. Maka apabila ia berpuasa tidak sah puasanya.<br />
Rasulullah bersabda, “Bukankah tatkala ia mengalami haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” Kami (para shahabat wanita) mengatakan, “Benar” Beliau bersabda, “Itulah kekurangan agamanya.” (HR. Al Bukhari)<br />
Dan dari Mu’adzah ia berkata: “Saya pernah bertanya kepada ‘Aisyah, saya katakan, “Kenapa seorang yang haid mengqadha’ puasa tetapi tidak mengqadha’ shalat?” beliau mengatakan, “Apakah kamu seorang haruriyah (salah satu sempalan khawarij)?” saya mengatakan, “Saya bukanlah seorang haruriyah, akan tetapi saya benar-benar bertanya”. Beliau mengatakan, “Dulu hal itu (haid) menimpa kami, maka kami diperintah untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintah untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)</p>
<p>4. Infus<br />
Yaitu menyalurkan nutrisi ke dalam usus dengan tujuan pemberian gizi bagi orang yang sakit. Maka jenis ini membatalkan puasa karena memasukkan sesuatu ke kerongkongan. Dan juga infus yang tidak disalurkan lewat usus tetapi lewat aliran darah, maka hal tersebut juga membatalkan puasa, karena hal itu menggantikan fungsi makanan dan minuman. Kebanyakan orang sakit yang mengalami koma dalam jangka waktu lama mereka diberi gizi (misalnya glukosa dan salayin) melalui infus ini. Demikian pula yang dipakai oleh orang yang sakit asma, inipun membatalkan puasa.</p>
<p>5. Jima’ (hubungan suami isteri).<br />
Berkata Asy Syaukani dalam Ad Dararil Mudhiyah (II/22), “Adapun jima’, tidak ada perbedaan pendapat bahwa hal tersebut membatalkan puasa apabila dilakukan dengan tahu. Adapun kalau terjadi karena lupa, maka sebagian ulama menggabungkannya seperti orang yang makan atau minum karena lupa.”<br />
Berkata Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (II/60), “Dan Al Qur’an menunjukkan bahwa jima’ membatalkan puasa sebagaimana makan dan minum, setahu kita tidak ada perbedaan pendapat tentangnya.”<br />
Maka barangsiapa yang batal puasanya karena jima’ wajib atasnya mengqadha’ sekaligus membayar kaffarah. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, beliau berkata: “Seseorang datang kepada Rasulullah kemudian dia berkata, “Ya Rasulullah, celaka saya!” Rasulullah bertanya, “Apa yang membuatmu celaka?” orang itu berkata, “Aku menyetubuhi isteriku di bulan Ramadhan” Beliau bersabda, “Apakah kamu mampu membebaskan budak?” Orang itu menjawab, “Tidak” Rasulullah bersabda, “Apa kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” ia menjawab, “Tidak” Rasulullah bersabda, “Apakah kamu mampu memberi makan enam puluh orang miskin?” ia menjawab, “Tidak” Rasulullah bersabda, “Duduklah”, ia pun duduk. Kemudian didatangkan kepada Nabi  sekeranjang korma (sedekah). Beliau bersabda, “Bersedekahlah dengannya!” Ia mengatakan, “Tidak ada di padang pasir berbatu hitam (maksudnya: Madinah) keluarga yang lebih miskin dari kami.” Maka Nabi tertawa sehingga terlihat gigi taringnya, lalu bersabda, “Ambillah, beri makan keluargamu!”<br />
Berkata peringkasnya: Dalam sebuah riwayat beliau memerintahkan orang tersebut untuk mengqadha’ satu hari sebagai gantinya. (Lihat Irwaul Ghalil IV/93)</p>
<p>Faedah yang diambil dari hadits Abi Hurairah ini:<br />
- Kaffarah jima’ tersebut berurutan dan bukan bebas memilih.<br />
- Isteri tidak diperintah untuk membayar kaffarah.<br />
- Orang yang tidak mampu membayar kaffarah maka gugur kewajiban darinya. Wallahu a’lam.</p>
<p>Perkara-perkara yang tidak membatalkan puasa:<br />
=============================================<br />
1. Makan dan minum karena lupa.</p>
<p>Barangsiapa yang makan atau minum karena lupa, keliru, atau dipaksa maka tidak ada kewajiban qadha’ dan kaffarah atasnya. Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang lupa kemudian makan dan minum, maka hendaknya dia tetap meneruskan puasanya, karena sesungguhnya Allah yang telah memberinya makan dan minum.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Dan beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mengampuni dari umatku kesalahan, lupa, dan paksaan atasnya.” (Hadits shahih li ghairihi riwayat Ibnu Majah)</p>
<p>2. Muntah tanpa sengaja.<br />
Orang yang muntah tanpa sengaja tidak batal puasanya (tidak ada kewajiban qadha’ atau kaffarah). Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak ada kewajiban mengqadha, sedangkan siapa yang sengaja muntah maka dia harus mengqadha’.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan lainnya)</p>
<p>3. Seorang yang berpuasa memasuki waktu subuh dalam keadaan junub.<br />
Dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah, “Bahwasanya Rasulullah memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena berjima’ dengan isterinya kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (Muttafaqun alaihi)</p>
<p>4. Gosok gigi.<br />
Rasulullah bersabda: “Seandainya saya tidak khawatir akan memberatkan umatku niscaya aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu.” (HR. Al Bukhari)<br />
Rasulullah tidak mengkhususkan orang yang berpuasa dari selainnya (tentang bolehnya bersiwak) demikian juga hal tersebut bersifat umum di semua waktu, sebelum tergelincirnya matahari atau sesudahnya.<br />
Peringkas berkata: Dan digabungkan dengan hukum bersiwak penggunaan pasta gigi, sesungguhnya hal tersebut tidak membatalkan puasa. Walhamdulillah.</p>
<p>5. Berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung tanpa berlebihan).<br />
Rasulullah bersabda: “Maksimallah dalam ber-istinsyaq kecuali engkau sedang berpuasa.” (Hadist shahih riwayat Ashabus Sunan)</p>
<p>6. Mesra dan mencium istri bagi orang berpuasa dengan syarat mampu mengendalikan dirinya.<br />
Telah shahih dari Aisyah Radiyallahu ‘anha bahwasanya beliau berkata: “Bahwa Rasulullah pernah mencium (istrinya) dalam keadaan berpuasa dan bercumbu dalam keadaan berpuasa akan tetapi beliau adalah seseorang yang paling bisa mengendalikan syahwatnya.” (HR. Al Bukhari Muslim)</p>
<p>7. Berbekam dan tes darah.<br />
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Nabi berbekam dalam keadaan beliau berpuasa.”(HR. Al Bukhari)</p>
<p>8. Suntikan yang tidak bertujuan untuk pemberian gizi.<br />
Maka hal tersebut tidak membatalkan puasa karena tidak menggantikan fungsi makanan dan minuman.</p>
<p>9. Mencicip makanan dengan syarat tidak masuk ke tenggorokan.<br />
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak mengapa mencicipi cuka atau sesuatu selama tidak masuk ke dalam kerongkongan dalam keadaan berpuasa.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Abi Syaibah)</p>
<p>10. Celak, tetes mata, dan selainnya dari sesuatu yang masuk ke mata.<br />
Hal ini tidak membatalkan puasa, sama saja terasa di tenggorokan atau tidak, dan ini yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalahnya yang bagus –Haqiqotush Shoum- dan murid beliau Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitab beliau yang berharga –Zaadul Ma’ad- dan Al Imam Bukhari berkata dalam kitab shahihnya: “Anas, Al Hasan dan Ibrahim berpendapat celak bagi orang yang berpuasa tidak mengapa.”</p>
<p>11. Mengguyur air dingin keatas kepala dan mandi.<br />
“Sungguh Nabi pernah mengguyur air diatas kepala beliau dalam keadaan berpuasa karena dahaga dan panas.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud)</p>
<p>Orang-orang yang diperbolehkan berbuka kemudian mengqadha atau membayar fidyah<br />
==============================================================================<br />
1. Musafir<br />
Allah berfirman:<br />
“Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Al Baqarah:185)<br />
Maka ayat ini menunjukkan bahwa seorang musafir diperbolehkan untuk berbuka dan berpuasa sebagai gantinya pada hari-hari yang lain.<br />
Ketahuilah saudaraku seiman –Semoga Allah membimbingmu ke jalan petunjuk dan ketaqwaan dan semoga Allah memberi rizqi pemahaman tentang agama- sesungguhnya puasa dalam perjalanan apabila memberatkan seorang hamba maka bukanlah termasuk kebaikan sama sekali bahkan berbuka lebih utama dan lebih disukai oleh Allah berdasarkan sabda Rasulullah : “Bukan termasuk kebaikan berpuasa didalam perjalanan.”(HR. Al Bukhari Muslim)</p>
<p>2. Orang sakit<br />
Allah telah telah mengizinkan orang yang sakit untuk berbuka sebagai rahmat baginya dan keringanan atasnya. Adapun penyakit yang diperbolehkan untuk berbuka karenanya adalah penyakit yang dengan berpuasa akan menimbulkan mudharat bagi jiwa seseorang atau akan menambah penyakitnya atau menghambat kesembuhannya. Maka apabila dia berbuka, ia wajib mengqadha hari yang ditinggalkannya berdasarkan ayat mulia yang telah lalu, kecuali penyakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, maka ia memberi makan kepada satu orang miskin setiap hari yang ditinggalkannya. Karena ketika itu ia disamakan dengan orang yang tidak mampu berpuasa seperti orang yang telah lanjut usia.</p>
<p>3. Perempuan yang haid dan nifas<br />
Ulama bersepakat bahwa perempuan yang haid dan nifas tidak halal untuk berpuasa. Dan keduanya harus berbuka dan mengqadha. Apabila ia berpuasa tidak sah puasanya.<br />
Peringatan: Seseorang yang mempunyai kewajiban qadha’ puasa Ramadhan, maka tidak wajib untuk melakukannya dengan bersegera dan berurutan –walhamdulillah- dan dalilnya adalah keumuman firman Allah: “Maka hendaklah ia mengganti sejumlah hari yang ditinggalkannya pada hari yang lain.” Akan tetapi tidak diperbolehkan mengakhirkan qadha sampai datang Ramadhan yang berikut lagi kecuali karena alasan yang dibenarkan syariat.</p>
<p>4. Seorang yang telah lanjut usia laki-laki atau perempuan<br />
Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata: “Seorang yang telah lanjut usia baik laki-laki atau perempuan yang tidak mampu untuk berpuasa maka hendaknya ia memberi makan satu orang miskin setiap hari (yang ditinggalkannya).”(HR. Al Bukhari)</p>
<p>5. Perempuan yang hamil dan menyusui<br />
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah meletakkan setengah shalat bagi seorang musafir, dan puasa bagi seorang yang hamil dan menyusui.” (Hadits jayyid riwayat Ashabush Sunan)<br />
Maka seorang yang hamil dan menyusui keduanya boleh berbuka (tidak berpuasa) jika khawatir akan diri atau bayinya, kemudian memberi makan satu orang miskin setiap hari yang ditinggalkannya. (Hadits shahih riwayat Ibnu Jarud)<br />
Dan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang seorang perempuan yang hanil apabila khawatir atas janinnya? Maka beliau menjawab: “Ia berbuka dan memberi makan satu orang miskin setiap hari yang ditinggalkannya dengan satu mud gandum.” (Hadits shahih riwayat Asy Syafi’i)<br />
Tidak ada yang menyelisihi Ibnu Abbas dan Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhum dari kalangan shahabat sebagaimana dikatakan oleh pengarang kitab Al Mughni.<br />
Peringatan: Orang yang meninggal sedangkan dia mempunyai kewajiban puasa nadzar, maka walinya berpuasa (menggantikan) untuknya, sedangkan orang yang mempunyai kewajiban qadha’ Ramadhan, maka walinya memberi makan satu orang miskin setiap hari yang ditinggalkannya.</p>
<p>Berbuka<br />
========<br />
Kapan seseorang berbuka?<br />
Allah berfirman: “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datangnya) malam.”(Al Baqarah: 187). Rasulullah menafsirkannya dengan datangnya malam dan berlalunya siang serta tenggelamnya bulatan matahari.</p>
<p>Menyegerakan berbuka<br />
====================<br />
Rasulullah bersabda, “Senantiasa orang-orang dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Beliau bersabda, “Senantiasa umatku berada diatas sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang dalam berbuka.” (Hadits shahih riwayat Ibnu Hibban)<br />
Beliau pun bersabda, “Senantiasa agama ini nampak selama orang-orang (dari kaum muslimin) menyegerakan berbuka, karena yahudi dan nasrani mengakhirkannya.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya)<br />
Dulu Rasulullah  selalu berbuka dulu sebelum mengerjakan shalat Maghrib, karena menyegerakan berbuka termasuk akhlak para nabi. Sungguh Abu Darda’ telah berkata, “Tiga perkara termasuk akhlak kenabian: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dalam shalat.” (Atsar ini shahih dan dihukumi sampai ke Nabi , riwayat Ath Thabrani)<br />
Anas berkata, “Saya belum pernah melihat Rasulullah  sama sekali melakukan shalat Maghrib sampai beliau berbuka dulu, walau dengan seteguk air.” (Hadits shahih riwayat Ibnu Hibban)</p>
<p>Berbuka dengan apa?<br />
===================<br />
Dari Anas berkata, “Rasulullah biasa berbuka dengan ruthab (korma basah) sebelum melaksanakan shalat, apabila tidak ada maka dengan tamr (korma kering), apabila tidak ada beliau meneguk beberapa teguk air.” (Hadits hasan riwayat Abu Dawud dan lainnya)</p>
<p>Apa yang diucapkan ketika berbuka?<br />
==================================<br />
Rasulullah apabila berbuka beliau mengucapkan:<br />
ذهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ<br />
“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat serta telah tetap pahalanya insya Allah.” (Hadits hasan riwayat Abu Dawud)</p>
<p>Keutamaan memberi makan orang yang berpuasa<br />
============================================<br />
Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya.” (Hadits shahih riwayat At Tirmidzi dan lainnya)<br />
Dan disunnahkan bagi orang yang diundang makan untuk mendoakan kebaikan bagi orang yang mengundang sesudah menyantap makanannya dengan doa yang datang dari Nabi sebagai berikut:<br />
أَفْطَرَ عنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ<br />
“Orang-orang yang berpuasa telah berbuka disisimu, orang-orang yang baik telah menyantap makananmu, dan para malaikat bershalawat atasmu.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan lainnya)<br />
اَللّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَاسْقِ مَنْ سَقَانِي<br />
“Ya Allah berilah makan orang yang memberiku makan dan berilah minum orang yang memberiku minum.” (HR. Muslim)<br />
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ<br />
“Ya Allah, ampunilah mereka, rahmatilah mereka, dan berkahilah apa yang Engkau rezkikan kepada mereka.” (HR. Muslim)</p>
<p>==============<br />
LAILATUL QADR<br />
==============</p>
<p>Keutamaannya<br />
=============<br />
Cukup bagi kemuliaan Lailatul Qadar bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Allah berfirman:</p>
<p>1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qadr (malam kemuliaan).<br />
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?<br />
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.<br />
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.<br />
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.<br />
(QS:Al-Qadr:1-4)</p>
<p>Waktunya<br />
========<br />
Pendapat yang paling kuat bahwasanya Lailatul Qadar terjadi di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits<br />
Aisyah, “Rasulullah beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, ‘Carilah malam Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, apabila tidak mampu atau lemah maka jangan sampai terluput dari tujuh hari sisanya’.” (HR. Al Bukhari)<br />
Kesimpulan: Seorang muslim hendaknya mencari malam Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari yang terakhir, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.<br />
Dan apabila tidak mampu untuk mencarinya di semua ganjil yang terakhir maka hendaknya ia mencarinya di malam ganjil dari tujuh hari yang tersisa, yaitu malam ke-25, 27, dan 29.</p>
<p>Bagaimana seorang muslim mencari malam Lailatul Qadar?<br />
======================================================<br />
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa shalat pada malam Lailatul Qadar dengan keimanan dan mencari wajah Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Dari Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana jika saya tahu terjadinya malam Lailatul Qadar, apa yang saya ucapkan?” Beliau menjawab:<br />
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي<br />
(Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan maka ampunilah aku).” (Hadits shahih riwayat Ahmad dan lainnya)<br />
Dan darinya Radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasuullah  apabila masuk sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan) beliau mengencangkan kainnya (menjauhi istri-istrinya untuk beribadah), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya…”(HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Dan darinya Radhiyallhu ‘anha (beliau berkata): “Adalah Rasulullah  bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) sepuluh malam (terakhir bulan Ramadhan) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (Riwayat Muslim)</p>
<p>========<br />
I’tikaf<br />
========</p>
<p>Pengertiannya<br />
=============<br />
I’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat. Dikatakan bagi orang yang berdiam diri di masjid dan melakukan ibadah sebagai mu’takif dan ‘akif (orang yang beri’tikaf)<br />
Disyariatkannya i’tikaf<br />
Disunnahkan i’tikaf di bulan Ramadhan dan selainnya sepanjang tahun, dan telah shahih bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah, saya dulu bernadzar di zaman jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjidil Haram.” Beliau  bersabda: “Penuhilah nazdarmu.” (Maka Umarpun beri’tikaf satu malam). (HR. Al Bukhari)<br />
“Dan adalah Rasulullah beri’tikaf selama sepuluh hari setiap bulan Ramadhan dan ketika tahun dimana beliau wafat padanya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Al Bukhari)</p>
<p>Syarat-syarat I’tikaf<br />
=====================<br />
1.Tidak disyariatkan kecuali di dalam masjid berdasarkan firman Allah: “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.”(Al Baqarah: 187)<br />
Dan yang dimaksud dengn masjid pada ayat ini adalah tiga masjid (Masjid Nabawi, Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsho). Rasulullah bersabda: “Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga Masjid saja.” (Shahih riwayat Al Baihaqi dan selainnya).<br />
Berkata peringkasnya: Ini adalah pendapat sebagian ulama, sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa boleh beri’tikaf di selain tiga masjid tersebut, berdasarkan keumuman firman Allah: “Sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.” (Al Baqarah: 187)<br />
Dan karena i’tikaf di selain tiga masjid termasuk amalan salaf. Dan mereka membawa hadits tersebut (peniadaan i’tikaf pada selain tiga masjid) kepada peniadaan kesempurnaan. Wallahu A’lam.<br />
2.Wajib dilakukan di masjid jami’ (yang digunakan untuk shalat jama’ah dan Jum’at) agar tidak memaksa untuk keluar dari masjid tersebut untuk shalat Jum’at karena shalat Jum’at hukumnya wajib.<br />
Telah berkata Aisyah Radhiyallahu ‘anha: “Termasuk sunnah bagi orang yang beri’tikaf untuk tidak keluar dari masjid kecuali karena kebutuhan yang mesti ia lakukan, dan tidak boleh menjenguk orang sakit, tidak menggauli istrinya, tidak bermesraan dengan istrinya dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’. Dan termasuk sunnah juga bagi orang yang beri’tikaf untuk berpuasa.” (Shahih riwayat Al Baihaqi)<br />
3.Dan termasuk sunnah bagi yang beri’tikaf untuk berpuasa seperti yang telah lalu dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha.</p>
<p>Apa-apa yang boleh dilakukan bagi orang yang beri’tikaf:<br />
========================================================<br />
1.Boleh keluar dari masjid untuk menunaikan kebutuhannya.<br />
2.Boleh membuat kemah kecil di bagian belakang masjid sebagai tempat untuk beri’tikaf karena Aisyah Radhiyallahu ‘anha membuat kemah untuk Nabi  apabila beliau beri’tikaf.” (HR. Al Bukhari)<br />
3.Boleh meletakkan karpet atau kasur atau tempat tidur di dalam masjid.</p>
<p>I’tikaf bagi perempuan dan kunjungannya kepada suaminya di dalam masjid<br />
Telah berkata Shofiyah Radhiyallahu ‘anha: “Pernah ketika Rasulullah beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan aku mengunjunginya di suatu malam.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Telah berkata Aisyah Radhiyallahu ‘anha: “Dulu Rasulullah  beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian beri’tikaf istri-istri beliau setelahnya.”<br />
(HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Telah berkata Syaikh Albani Rahimahullah: “Padanya terdapat dalil mengenai bolehnya wanita beri’tikaf dan tidak diragukan bahwasanya i’tikaf bagi wanita harus seizin walinya dan aman dari fitnah serta aman dari berbaur dengan laki-laki, berdasarkan dalil-dalil yang banyak tentang hal tersebut dan berdasarkan kaidah fiqih: Bahwasanya menghindari kejelekan lebih didahulukan dari pada mencari mashlahat (kebaikan).”</p>
<p>==============<br />
Shalat tarawih<br />
==============<br />
Telah bersabda Rasulullah : “Barangsiapa shalat di bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Jumlah Rakaatnya<br />
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha: “Rasulullah tidak pernah menambah baik di bulan Ramadhan maupun selainnya lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Al Bukhari)<br />
Dan ketika Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menghidupkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia pada sebelas rakaat sesuai dengan sunnah yang benar. Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Malik dari As Saib bin Yazid bahwa dia berkata: “Umar bin Khaththab dulu memerintahkan Ubai bin Ka’ab dan Tamim Ad Dary untuk mangimami orang banyak (shalat tarawih) dengan sebelas rakaat.”</p>
<p>============<br />
Zakat Fitrah<br />
============</p>
<p>Hukumnya<br />
========<br />
Zakat fitrah hukumnya wajib berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah  mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas orang-orang.” (HR. Muslim)<br />
Wajib atas siapa?<br />
Zakat fitrah wajib bagi anak kecil, orang tua, laki-laki, perempuan, orang merdeka dan budak dari kaum muslimin. Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, kecil maupun besar dari kaum muslimin.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Telah berpendapat sebagian ulama wajibnya zakat fitrah bagi janin dan saya tidak tahu dalilnya padahal janin itu tidak dinamakan anak kecil baik secara bahasa maupun secara adat.<br />
Macam-macam zakat fitrah:<br />
Zakat fitrah dikeluarkan berupa satu sha’ gandum, kurma, susu kering, anggur kering atau salt (jenis gandum yang tidak berkulit). Berdasarkan hadits Abu Said Al Khudry Radhiyallahu ‘anhu: “Dulu kami mengeluarkan zakat fitrah berupa satu sha’ makanan atau sya’ir (jenis gandum) atau kurma atau susu atau anggur kering.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Ulama telah berbeda dalam menafsirkan lafazh makanan pada hadits tersebut ada yang menafsirkan dengan gandum ada pula yang selainnya, dan yang membuat jiwa ini tenang: maksudnya adalah umum mencakup setiap apa yang ditimbang dari makanan seperti gandum dan jenis-jenis yang disebutkan tadi, dan juga tepung dan juga adonan.<br />
Ukuran zakat<br />
Seorang muslim mengeluarkan zakat satu sha’ makanan dari jenis yang disebutkan tadi dan ulama telah berbeda pendapat tentang gandum -dari jenis khinthah- ada yang mengatakan setengah sha’ dan itu yang paling kuat dan yang paling benar berdasarkan sabda Rasulullah : “Tunaikanlah satu sha’ dari bur atau qumh (jenis-jenis gandum) untuk dua orang, atau satu sha’ korma atau sya’ir (jenis gandum) untuk setiap orang yang merdeka atau hamba sahaya kecil atau besar.”<br />
(Shahih riwayat Ahmad)<br />
Satu sha’ yang dianggap itu adalah sha’nya orang Madinah berdasarkan haditsnya Umar Radiyallahu ‘anhu, telah bersabda Rasulullah : “Timbangan yang teranggap adalah timbangannya orang Makkah dan takaran yang teranggap adalah takaran orang Madinah.” (Shahih riwayat Abu Dawud dan yang lainnya)<br />
1 sha’= 2,5 kg</p>
<p>Siapa yang harus dibayarkan zakatnya?<br />
=====================================<br />
Seorang muslim mengeluarkan zakat untuk dirinya sendiri dan orang yang dibawah tanggungannya dari yang kecil, besar, laki-laki, perempuan, orang merdeka atau budak berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah telah memerintahkan zakat fitrah untuk kecil, besar, merdeka dan hamba dari orang-orang yang dibawah tanggungannya.” (Hadits hasan li ghairihi riwayat Daraquthni)<br />
Penyaluran zakat fitrah:<br />
========================<br />
Zakat fitrah tidak berhak diberikan kecuali bagi orang yang berhak menerimanya yaitu orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah sebagai pensuci bagi orang-orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan keji dan sebagai pemberian makan bagi orang-orang miskin.”(Shahih riwayat Abu Dawud dan selainnya).<br />
Dulu Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhum menyerahkan zakat kepada orang-orang yang mengurusi zakat, mereka adalah panitia yang ditunjuk pemerintah untuk mengumpulkannya, dan hal itu dilakukan satu atau dua hari sebelum Idul Fitri. Dan Ibnu Khuzaimah telah mengeluarkan sebuah hadits dari jalan ‘Abdul Warits, “Saya bertanya kepada Ayyub, ‘Kapan Ibnu ‘Umar mengeluarkan satu sha’?’ Ayyub berkata, ‘Apabila petugas telah duduk bertugas’. Aku bertanya lagi, ‘Kapan petugas itu mulai bertugas?’ Beliau berkata, ‘Satu atau dua hari sebelum ‘Idul Fitri’.”<br />
Waktu ditunaikannya zakat:<br />
==========================<br />
Dikeluarkan sebelum kaum muslimin keluar untuk Ied dan tidak boleh mengeluarkan setelah shalat atau mendahuluinya kecuali sehari atau dua hari berdasarkan perbuatan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhum. Dan apabila dikeluarkan setelah shalat ied maka hanya termasuk shadaqah, berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu: “Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat maka itu adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang mengeluarkannya setelah shalat maka itu adalah sebuah bentuk shadaqah.”(Shahih riwayat Abu Dawud dan selainnya)<br />
Hikmahnya<br />
Allah telah mewajibkan sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan keji serta sebagai pemberian makan bagi orang-orang miskin untuk mencukupi kebutuhan mereka di hari yang indah.</p>
<p>===========<br />
Shalat ‘Ied<br />
===========</p>
<p>Hukumnya<br />
========<br />
Hukum shalat ‘Ied wajib bagi laki-laki, pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam, Shan’ani, dan selainnya. Inilah pendapat yang benar, dan wajib pula bagi wanita berdasarkan perintah Rasulullah , ini pendapatnya Shan’ani dan dia menyebutkan bahwa ini merupakan pendapat Abu Bakar, Umar, Ali Radhiallahu ‘anhum.</p>
<p>Tempat pelaksanaannya<br />
=====================<br />
“Dulu Rasulullah keluar pada hari raya ‘Idul Fitri dan Adha ke musholla (tanah lapang yang jauh dari perumahan) dan yang pertama kali beliau lakukan di musholla adalah shalat.” (HR. Al Bukhari)<br />
Keluarnya wanita untuk shalat ‘ied<br />
Dari Ummu Athiyah Radhiallahu ‘anha: “Rasulullah telah memerintahkan kami untuk mengeluarkan pada hari raya ‘Idul Fitri dan Adha gadis-gadis, wanita haid, wanita pingitan. Adapun wanita haid mereka tidak ikut shalat tetapi menyaksikan kebaikan dan dakwahnya kaum muslimin. Aku berkata: “Ya Rasulullah, ada salah seorang di antara kami yang tidak mempunya jilbab?” Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjaminya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)<br />
Berangkat menuju mushollah melalui sebuah jalan dan pulang dengan mengambil jalan yang lain.<br />
Dari Jabir Radhiallahu ‘anhu berkata: “Dulu Rasulullah apabila shalat ‘Ied mengambil jalan yang berlainan.” (HR. Al Bukhari)<br />
Dengan ini tercapailah tujuan dan maksud, segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sempurnalah kebaikan-kebaikan. Wallahu A’lam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/izzatunadinulhaq.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=izzatunadinulhaq.wordpress.com&amp;blog=9778670&amp;post=9&amp;subd=izzatunadinulhaq&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://izzatunadinulhaq.wordpress.com/2009/10/04/ringkasan-sifat-puasa-nabi-bag-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e44008b7c017d66659a7faf709085341?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">izzatunadinulhaq</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
